Ruwat, Larung Sengkolo, Buang Sial

0
97
Prosesi ruwat buang siap

RUWAT, LARUNG SENGKOLO, BUANG SIAL

Ruwatan adalah sebuah tradisi masyarakat Indonesia yang dipercaya sanggup menghilangkan sengkolo. Melalui ruwatan orang mengharap pintu rejekinya terbuka lebar. Melalui ruwatan orang juga berharap wibawanya semakin besar, aura memancar tajam, bahkan dengan ruwatan orang juga percaya akan enteng jodoh. Pendek kata, ruwatan adalah sebuah ritual yang mengupayakan setiap pengikutnya dapat menapaki hidup sesuai cita-cita dan harapannya.

Lalu bagaimana prosesi ritual dari ruwatan itu sendiri? Dulu pada zaman Nusantara masih terdiri dari berbagai kerajaan, ruwatan hanya boleh dilakukan oleh seorang Dalang, Ketua Adat atau Sesepuh. Tapi waktu kemudian memproses ruwatan menjadi sebuah tradisi yang dikolaborasikan dengan berbagai kepercayaan. Misalnya Kyai Pamungkas, spiritual yang memasukkan unsur Islam dalam prosesi ruwatannya. Menurutnya, ruwatan yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat luas itu disebutnya sarana yang diperlukan untuk melakukan kiyas adalah kembang 7 macam di dalam mangkuk yang berisi air, minyak wangi dan dupa yang biasa disebut dengan Buhur Maghribi. Setelah rambut yang hendak dikiyas dipotong (sedikit), dimulailah pembacaan ayat-ayat suci secara bersama-sama. Di antaranya adalah Surah At Taubah, Ayat Kursyi, AI Ikhlas, Al Falaq, An Nas dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Shifa, shalawat Nur, shalawat Kamillah atau shalawat Nariyah. Setelah itu, ditutup dengan do’a yang biasanya dibacakan dalam bahasa ibu.

Sementara itu melalui proses yang sarat nuansa mistik (klenik), Ki Murti biasa melarung aura negatif seseorang dengan cara memandikan yang bersangkutan ke sebuah danau terpencil. Menurutnya, danau itu bersifat murni hingga sanggup melarutkah aura negatif dan semua kotoran batin manusia. Serupa dengan Ki Murti, Ki Gede juga melakukan pelarungan sengkolo seseorang. Menurutnya pelarungan itu bisa dilakukan di laut atau kungkum di sendang keramat untuk menarik aura, energi field. Di Iain tempat ada pula ruwatan yang dikolaborasikan dengan kepercayaan masyarakat Tiongkok, seperti yang dilakukan oleh beberapa paranormal di Jakarta. Mereka melakukan pemotongan ayam hitam dan ayam putih, pembakaran kertas HU hingga pemotongan lidah dengan jurus-jurus khusus ciptaan sendiri. Tapi bagaimana pun prosesinya, tujuan mereka adalah sama yaitu untuk meluruskan cita-cita dan tujuan para peserta ruwatan.

Pada waktu pemerintahan Sinuhun Amangkurat Tegalarum, seorang dalang yang bernama Kyai Panjangmas atas izin raja diperkenankan untuk melakukan ruwatan dengan sarana wayang kulit. Tidak Iagi menggunakan wayang beber seperti sebelumnya.

Dan Kyai Panjangmas menyusun cerita Murwakala dengan berdasarkan cerita Raden Panji Kasatrian ketika ia sedang menyamar sebagai dalang pangruwat yang mengaku bernama Kandabuwana atau Kilatbuwana. Sementara, semua penabuhnya terdiri dari sanak saudaranya sendiri.

Oleh karena itu, manakala seseorang tergolong dalam hitungan orang yang harus diruwat atau karena kealpaan dan keteledorannya menyebabkan mereka harus diruwat, maka, dipanggillah dalang yang bertugas sebagai pengruwat. Dan dalang tersebut harus benar-benar tahu cara melakukan ruwatan sebagaimana yang dilakukan oleh Kyai Panjangmas Iagi pula, dalang harus benar-benar hafal mantra-mantra ruwatan di mana salah satu di antaranya adalah rajah Kalacakra yang keramat itu. Suatu tulisan yang ada di dada Batara Kala dan hanya bisa dibaca oleh Sang Hyang Wisnu. Dewa pemelihara alam semesta.

Piranti ruwat

Belakangan tak hanya dalang, ternyata, banyak spiritualis yang juga mampu melakukan ruwatan. Mulai dari cara yang klasik sampai dengan mandi atau kungkum (berendam-Jw) di sendang dan di sungai baik yang biasa ataupun tempuran (pertemuan antara dua atau tiga sungai-Jw).

Ditemui di rumahnya di daerah Jakarta Timur, Kyai Pamungkas mencoba mengomentari tata laku seputar ruwatan. “Menurut saya, ruwatan adalah salah satu bentuk dari budaya lama yang sampai sekarang masih lestari keberadaannya. Apalagi, di kalangan masyarakat tertentu, tata laku yang satu ini masih diyakini dan dijalankan dengan tertib,” paparnya.

“Tujuan dari tata laku ini adalah untuk menghilangkan berbagai bentuk sengkolo atau sial yang akan dan tengah menimpa akibat dari hitungan, keadaan ataupun keteledoran yang baik sengaja ataupun tidak telah dilakukannya,” imbuhnya.

Padahal jika dikaji dengan saksama, sebenarnya Islam tidak mengenal dengan apa yang disebut ruwatan sebab Islam mengajarkan kepada seluruh pemeluknya bahwa bayi yang baru lahir itu suci. Tidak membawa dosa atau kesialan walau sekecil apapun! Melihat keadaan itu, akhirnya, para ahli hikmah yang menguasai ilmu falaq sepakat untuk melakukan hal yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat luas itu dengan cara kiyas.

“Jika boleh tahu, bagaimana cara kiyas yang biasa dilakukan kepada orang yang mengaku terkena sengkolo?” Pancing paranormal-terbaik.com

Prosesi ruwat buang sial

Dengan gamblang, Kyai Pamungkas menerangkan, sarana yang diperlukan untuk melakukan kiyas adalah kembang 7 macam di dalam mangkuk yang berisi air, minyak wangi dan dupa yang biasa disebut dengan Buhur Maghribi atau yang sejenis. Dan setelah rambut yang hendak di kiyas dipotong (sedikit), maka, dimulailah pembacaan ayat-ayat suci secara bersama-sama. Di antaranya adalah Surah At Taubah, Ayat Kursyi, AI lkhlas, AI Falaq, An Nas dan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Shifa, shalawat Nur, shalawat Kamillah atau shalawat Nariyah. Setelah itu, ditutup dengan do’a yang biasanya dibacakan dalam bahasa ibu.

Ternyata prosesu belum berhenti sampai di situ. Sebab yang bersangkutan harus mandi dan membuang potongan rambutnya ke aliran sungai yang mengalir.

“Dan bagi yang merasa dirinya terkena sengkolo, biasanya, setelah mandi ia akan merasakan ada suatu perubahan yang cukup berarti. Mulai dari perasaan tenang gembira, mantap, bahkan ada juga yang merasa jika aura yang selama ini tertutup seketika memancar dengan gilang gemilang,” tambahnya.

“Hal itu terjadi karena sengkolo hilang berkat shalawat Shifa. Sementara aura tubuh akan memancar berkat shalawat Nur,” lanjutnya Iagi.

Dan akan menjadi lebih sempurna, jika setelah itu, si pelaku melaksanakan berbagai hal yang diperintah oleh Allah dan menjauhi segala larangannya dengan begitu, maka, apa yang diharapkan Insya Allah akan dapat segera terkabul.

“Kenapa tidak menggunakan sarana wayang?” Desak paranormal-terbaik.com

“Betapa menderitanya orang yang merasa terkena sengkolo tetapi lahir dari keluarga yang kurang beruntung. Karena tak mampu, ia tidak akan pernah bisa di ruwat atau di kiyas,” jawabnya mantap.

Dan sebelum menutup pembicaraan. kembali Kyai Pamungkas menambahkan, “Akan lebih baik jika prosesi kiyas dilakukan di rumah dan ditutup dengan syukuran atau selamatan. Dengan begitu, maka, nuansa keagamaannya juga akan lebih terasa.” ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here