Kisah Kyai Pamungkas: VILLA ANGKER BALI

0
20

Kisah Kyai Pamungkas:
VILLA ANGKER BALI

Villa yang bertingkat dua dengan 8 kamar di lantai atas dan 10 kamar di lantai bawah itu, pada awalnya dimaksudkan untuk disewakan pada tamu asing. Tapi karena setiap tamu yang menginap mengalami peristiwa aneh, maka yang punya jadi tidak enak hati.

“Setahu saya villa itu sudah ada sejak tahun 80-an awal, pernah dihuni turis tapi kemudian tanpa berita ditinggalkan begitu saja, sekarang ini ada penjaganya tapi datang hanya tiap bulan sekali dan bukan penduduk sini,” ungkap Wayan Sudina, 50 tahun, yang tinggal tak jauh dari villa tersebut.

Menurut penuturan penduduk setempat yang sudah sejak 20-an tahun mengetahui keangkeran sang villa, dulunya di lokasi itu memang pernah dijadikan tempat untuk pembuangan jin oleh bangsa Wong Samar. atau hantu jadi-jadian.

”neuka dibeli waktu itu harga tanah ini tak sampai Rp 2,5 juta per-are sedangkan sekarang kawasan sekitar sini karena termasuk pantai harganya mencapai Rp 100 juta per-arenya. Tapi siapa yang mau membeli tanah angker seperti itu?” tanya Sudina, tak menuntut jawab.

Ilustrasi Villa Angker Bali

Keangkeran yang kasat mata adalah suara Iolongan anjing setiap tengah hari, padahal tak seorangpun sekitar villa yang punya anjing. Dan juga tak pernah seorangpun memelihara anjing selama bertahun-tahun lamanya di daerah itu. “Tapi suara anjing itu selalu muncul setiap tengah hari pukul 12 siang !” sorong Sudina.

Mereka yang pernah iseng masuk ke villa kosong itu juga mengalami peristiwa aneh. Diantaranya mendengar orang sedang ngulek bumbu di lantai atas, padahal tak ada tanda-tanda orang memasak.

Selain suara ulekan bumbu, yang juga membuat bulu tengkuk para pengunjung berdiri adalah, setiap suara sekecil apapun, misalnya langkah kaki, suara batuk, dan desah nafas akan diulang kembali dalam beberapa menit kemudian.

“Seperti ada yang mengikuti dari belakang. Saya pernah berteriak kencang, tahunya beberapa menit kemudian dari lantai atas ada teriakan yang mirip seperti suara saya, tapi agak serak. Sayapun Iari terbirit-birit,” timpal Wayan Doble, 61 tahun, warga setempat yang dianggap paranormal oleh penduduk sekitar villa.

Menurut Doble, villa angker itu memang dihuni oleh keluarga Wong Samar, atau hantu yang sudah beranak pinak hingga berjumlah puluhan di dalam villa. Wajahnya tidak begitu menyeramkan, bahkan mereka manis dan cantik-cantik. Tapi karena suka jahil dan menirukan suara anjing dan manusia yang bicara, tak ayal menyebabkan villa itu menjadi menyeramkan.

“Saya bahkan pernah didatangi oleh arwah seorang putri Wong Samar itu. Rambutnya merah tapi bibirnya sumbing sehingga suaranya rada bindeng. Sejak pertemuan itu saya tak takut lagi ke tempat itu,” papar Doble.

Penghuni villa angker itu kadangkala mengadakan perjamuan dan mengundang handai taulannya sesama hantu dari jauh. Ada yang dari Bali, Lombok bahkan dari Kalimantan. Mereka berkumpul dan berpesta kepiting dan kerang. Maka nitu di lokasi sering ditemukan sisa-sisa makanan alam Iaut itu di sekitar villa.

”Kepiting dan kerang itu bukan manusia yang makan, tetapi Wong Samar!” jelas Doble.

Maka tak heran, sekali setahun terutama di bulan Suro, akan ada bau bakaran kerang dari arah villa lengkap dengan asap membumbung dari dapur. Padahal tak seorang manusiapun berada di sekitar tempat itu.

“Apinya tak jelas betul terlihat, tapi asap pembakaran jelas memutih. Seminggu kemudian kulit kerang dan kepiting akan sirna dengan sendirinya, padahal tak ada petugas kebersihan yang menyatroni tempat itu,” tambah Doble.

Terkadang ada pula deru mobil dari pelataran villa di malam hari, tapi tak ada sinar, juga tak ada mobil yang muncul walaupun suaranya menderu hebat.

“Mobil itu memang sejak sebelum villa itu berdiri sudah sering kita dengar suaranya di kampung ini. Mobil yang dimaksud adalah mobil jenis Holden tahun 65, yang dimiliki oleh seorang serdadu Jepang yang dulu pernah berkuasa di sekitar Denpasar,” papar Doble. Tapi ketika Jepang kembali ke negerinya, Holden itu lenyap seperti tertelan bumi. Yang ada hanya suaranya yang menderu-deru keluar masuk villa. Ada suara tapi tak ada rupa. Selain suara mobil, setiap malam Jum’at, terdengar pula suara orang-orang seperti mendendangkan Iagu asmara. Lagu percintaan yang mendayu-dayu menyentuh telinga warga. “Tapi tak jelas itu suara pria atau wanita. Bahkan Iagu itu seperti campuran antara keduanya tetapi sanggt nyaring, terdengar sampai ke kampung yang jaraknya sekitar 1,5 km. Hal itu terjadi sebelum kampung kami ramai seperti sekarang,” kata Ketut Kamar, 32 tahun, penduduk Kedonganan sebelah barat villa.

Menurut Kamar, menjelang malam Jum’at biasanya akan ada bau menyan yang menyengat gari arah villa itu. Kemudian menjelang tengah malam barulah kidung dan tembang yang melankolis itu.

“Tapi bila diperhatikan, bahasanya tidaklah jelas, bukan bahasa Bali bukan pula bahasa Jawa dan Jepang. Tapi kata pakar kebatinan, bahwa begitulah bahasa Wong Samar,” papar Kamar. Bau menyan disertai tembang kasmaran itu akan berakhir menjelang subuh hari, bersama lenyapnya bau kemenyan.

Pagi setiap subuh, warna tembok villa itu akan kelihatan berkilau-kilau dari kejauhan. Padahal sehari-harinya warna cat villa itu sudah kusam bahkan nampak reot di sana-sini. Bahkan di beberapa bagian bahan kayu, telah mengelupas. Yang tentu saja menambah keseraman suasana. Selain itu juga, beberapa bagian plafon, pegangan tangga, juga lantainya terlihat bolong karena tak terawat.

“Tapi benar Pak, begitu ada bau menyan dan suara tembang di malam Jum’at, villa ini seperti usai direnovasi, seperti baru dibangun saja layaknya,” ungkap Kamar dengan nada tidak percaya.

Ilustrasi Villa Angker Bali

Di masa lalu, setiap malam Jum’at memang diadakan semacam prosesi petik berkah oleh penghuni pertamanyam Tapi waktu itu tak seorangpun peduIi karena penduduk setempat beranggapan pemilik villa itu melakukan ritual sesat. Apalagi mereka juga kurang bagus hubungannya dengan penduduk setempat.

Tak heran ketika kemudian penghuninya meninggalkan villa itu, secara diam-diam penduduk sekitar mensyukurinya. Warga tidak begitu senang pada penghunli villa karena tidak mau bergaul dengan penduduk sekitar. Jangankan datang bertamu ke rumah tetangga, menegur sajapun, tidak dilakukannya. Penghuni villa itu terkesan sombong. #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here