Kisah Kyai Pamungkas: PESUGIHAN BARERONG

0
52

Kisah Kyai Pamungkas:
PESUGIHAN BARERONG

Bekerja selama hampir sepuluh tahun di pulau Dewata, tidak hanya membuat Riama dapat mengumpulkan harta benda dan membeli rumah di pulau Jawa. Tapi juga memberinya serangkaian pengalaman hidup yang berharga. Salah satunya adalah peristiwa gaib, yang tidak dapat dia lupakan sampai sekarang. Kepada tim admin paranormal-terbaik.com Riama menuturkan peristiwa gaib yang dialaminya itu. Peristiwa yang berhubungan dengan pesugihan Barerong!

Aku mengenal Made (sebut saja demikian) sejak dia masih remaja. Aku tahu betul bagaimana kehidupannya, karena rumah yang aku kontrak di daerah Klungkung, bersebelahan dengan tempat tinggalnya. Malahan ketika dia menikah dengan seorang gadis tetangga desa, aku ikut membantu menyiapkan upacara pernikahannya.

Kehidupan Made serba kekurangan, karena pekerjaannya hanya berdagang. itupun dengan menjualkan barang milik orang lain. Sehingga laba yang didapat sangat tipis. Belum lagi harus menghidupi ibunya yang sakit-sakitan. Keadaan ekonomi Made semakin parah setelah berumahtangga, karena gadis yang dinikahinya juga berasal dari keluarga yang tidak mampu. Apalagi setelah anaknya lahir, Made semakin terjepit dengan permasalahan ekonomi.

Aku kerap mendengar Made bertengkar dengan istrinya, disebabkan permasalahan keuangan. Padahal aku tahu persis, Made bukanlah orang yang malas. Dia sangat rajin bekerja. Malahan tidak jarang bila bekerja dia sampai lupa waktu. Mungkin karena roda nasibnya masih berada di bawah, kemiskinan masih terus menyelimuti kehidupannya.

Ketika anak Made berumur setahun, ibu Made meninggal. Kabarnya sakit yang dia derita semakin parah. Aku percaya dengan kabar tersebut, karena ibu Made memang sering sakit. Lagipula tidak ada yang aneh dari kematian tersebut, semua terlihat wajar.

Hanya saja, sekitar satu bulan sebelum ibu Made meninggal, keadaan ekonomi Made semakin membaik. Menurut cerita yang aku dengar dari mulut tetangga, Made memiliki bisnis baru di daerah Nusa Dua. Tentang bisnis apa yang ditekuninya, aku kurang seberapa tahu, tapi yang pasti Made mulai memugar rumahnya, membeli beberapa perabot mewah, serta sepeda motor baru.

Mungkin karena keadaan ekonominya yang semakin membaik, Made mengajak saudara sepupunya untuk tinggal di rumahnya. Ketika pertama kali datang, saudara sepupu Made itu bertubuh gemuk, dan sikapnya ramah. Tapi belum genap sebulan tinggal di bersama Made, keramahannya hilang. Anak muda itu jadi jarang keluar rumah.

Aku menduga perubahan sikap anak muda itu karena mendapat pengaruh dari Made. Sebab, sejak ekonominya membaik, sikap Made yang dulu ramah berubah menjadi angkuh. Bila berjalan pandangannya tidak lagi menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi terus menunduk seolah takut bertatap mata dengan orang lain.

Tidak hanya itu, pembawaan Made terhadap orang lain selalu penuh kecurigaan. Bila dulu dia sering mengajak teman-temannya untuk singgah di rumahnya, kini tidak lagi. Jangankan mengajak singgah, mereka yang bertamu ke rumahnyapun, akan disambut dengan raut muka yang tidak ramah. Seolah menghendaki agar tamunya lekas pergi.

Satu lagi keanehan yang aku tangkap pada diri Made, adalah tentang bau tubuhnya yang amis. Pernah suatu hari dia mampir ke warungku untuk membeli rokok. Aku nyaris muntah mencium bau amis yang menyengat dari tubuhnya. Padahal bila dilihat dari penampilannya, tampak kalau dia baru selesai mandi.

Ilustrasi Mahluk Gaib Bali

Belum genap setahun sejak tinggal bersama Made, saudara sepupunya itu meninggal dunia. Kabarnya karena menderita leukimia, atau kanker darah. Sehingga tubuhnya yang semula gemuk, berubah menjadi kurus. Begitu kurusnya, hingga tinggal tulang berbalut kulit.

Tapi kali ini aku tidak percaya dengan kabar tersebut. Keanehan-keanehan yang aku lihat pada Made dalam beberapa bulan terakhir, membuat aku curiga ada sesuatu yang tidak beres pada diri laki-Iaki itu Dan kecurigaanku itu terbukti tiga hari kemudian, ketika isteri Made datang ke warungku, disaat suaminya sedang keluar.

“Tolonglah saya, Mbak. Anak saya mau dijadikan tumbal oleh Mas Made,” tutur perempuan itu diantara seduh sedan tangisnya.

”Tumbal apa?” Tanyaku ingin tahu lebih jauh.

“Tumbai Barerong!”

Jawaban itu kemudian disusul dengan cerita panjang lebar tentang pesugihan Barerong yang dimiliki Made. Kata perempuan itu Made merasa putus asa atas keadaan dirinya yang selalu menderita. Keputusasaan yang membuatnya menemui Belian Pangiwa (dukun ilmu hitam).

Atas petunjuk Belian Pangiwa itulah Made berupaya mencari Barerong. Dia jalani serangkaian laku spiritual dan berbagai macam upacara ritual, hingga Barerong itu berhasil dia dapatkan.

Sejak mendapatkan Barerong, keadaan ekonomi Made seketika berubah. Karena Made tidak perlu harus bersusah payah bekerja. Tapi makhluk piaraannya itulah yang mencarikan harta kekayaan untuknya.

Menurut penuturan istri Made, Barerong itu wujudnya persis seperti anjing, dengan kulit hitam Iegam. Bedanya, Barerong tidak memiliki bulu halus sebagaimana layaknya anjing, tapi bersisik seperti halnya seekor ular. Setiap kali beroperasi, Barerong memerlukan darah manusia. Karena itulah dibutuhkan tumbal, untuk dihisap darahnya. Darah itu pula yang membuat Barerong memiliki kesaktian, dan bersemangat mencarikan harta kekayaan untuk majikannya.

Setelah mendapatkan darah, Barerong akan memasuki rumah-rumah orang kaya. Kemudian dengan meloncati sasaran, makhluk itu akan dapat memindahkan perhiasan korban ke dalam tubuhnya dalam waktu singkat. Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Barerong akan kembali ke majikannya, dan mengeluarkan perhiasan yang didapat dengan menggerak-gerakkan tubuhnya. Pada saat itulah perhiasan yang dicuri Barerong akan berjatuhan melalui sisiksisik di sekujur tubuhnya.

Ilustrasi Mahluk Gaib Pencuri Uang

“lbu mertua, dan juga saudara sepupu mas Made meninggal bukan karena penyakit, tapi karena darah mereka dihisap oleh Barerong,” kata istri Made mengakhiri ceritanya.

‘“Lalu sekarang ganti anakmu yang akan dijadikan tumbal?”

“Begitulah. Karena itulah saya meminta tolong,” pintanya dengan menghiba.

Aku diam mendengar permintaannya. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Tetapi istri Made memandang lain terhadap sikap diamku. Dia mengira aku tidak mempercayai ceritanya.

“Kalau mbak tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan, mbak bisa melihat sendiri buktinya nanti malam. Lewat tengah malam, mbak bisa mengintip kedatangan Barerong di belakang rumah saya.”

“Percaya. Saya percaya dengan apa yang kamu ceritakan. Tetapi saya tidak tahu, dengan cara bagaimana saya dapat menyeIamatkan nyawa anakmu…” kataku.

“Tolong, beritahu alamat saudara Mbak di Jawa yang mau menerima kehadiranku. Rencananyaku akan membawa pergi anak sejauh-jauhnya, agar mas Made tidak mengetahui, dan kekuatan Barerong piaraannya tidak dapat mencelakai anakku,” ujarnya.

“Kalau begitu beri saya waktu untuk memikirkannya. Besok akan saya beritahu alamat rumah saudara saya yang tidak hanya bisa menerima kehadiranmu, tapi juga bisa melindungi diri kamu dan anakmu,” janjiku, membuatnya lega.

Kedatangan istri Made dengan cerita Barerongnya, membuatku merasa penasaran. Hingga pada malam harinya, aku ajak suamiku untuk bersembunyi di kamar mandi yang ada di belakang rumah. Cukup lama kami berada di sana. Baru setelah beberapa jam menunggu, kami lihat sesosok makhluk yang mengerikan berjalan perlahan di halaman belakang rumah Made. Melihat sosok makhluk siluman itu, bulu kudukku, berdiri. Mahkluk itu persis sebagaimana cerita isteri Made. Bentuknya menyerupai anjing, dengan kulit hitam Iegam. Sementara tubuhnya, dihiasi sisik-sisik berkilat yang memantulkan cahaya purnama.

Setelah makhluk itu lenyap dari pandangan, pikiranku tertuju pada istri Made dan anaknya. Aku merasa kasihan bila anak yang tidak berdosa itu harus mati di tangan siluman. Esok harinya istri Made menemuiku lagi di warung, aku berikan alamat Kyai ku di Jombang Jawa Timur yang merupakan tempatku mencurahkan isi hati dan memberi masukan bila ada masalah. Aku titipkan pula surat untuk Kyai Pamungkan, yang isinya menceritakan nasib yang diderita istri Made dan anaknya, serta permohonan agar pak kyai mau menerima kehadiran mereka.

Tampaknya istri Made sudah tidak sabar untuk dapat segera pergi meninggalkan rumah. Terbukti keesokan harinya Made menemuiku di warung dengan wajah bingung, dan menanyakan keberadaan istrinya. Tentu saja aku berbohong dengan menjawab tidak mengetahuinya.

Tiga bulan kemudian, terjadi peristiwa yang menggemparkan. Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba salah seorang tetangga menemukan mayat Made tergele tak di belakang rumahnya. Tubuh mayat itu penuh luka dan bersimbah darah. Wajahnya hancur, hingga sulit untuk dikenali.

Melihat keadaan mayat Made yang begitu mengenaskan, aku jadi teringat cerita isterinya tiga bulan lalu. Kata perempuan itu, bila Barerong tertangkap dan dihajar orang, maka majikannyalah yang akan merasakan sakit. Mungkinkah kematian Made disebab kan karena Barerong piaraannya tertangkap, kemudian dihajar dan dibunuh orang? Kita tidak bisa memastikannya. #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here