Kisah Kyai Pamungkas: PESUGIHAN KEDONO KEDINI DIJAGA ULAR BERKEPALA MANUSIA

0
112

Kisah Kyai Pamungkas:
PESUGIHAN KEDONO KEDINI DIJAGA ULAR BERKEPALA MANUSIA

Tengah hutan jati, malam sunyi senyap hanya suara binatang liar walang kutu menjadi teman sepi, Suara itupun semakin sayup terdengar, seakan menjadi saksi betapa semakin tersingkirnya hutan tersebut demi kebutuhan tinggal manusia.

Di tengah hutan jati yang menghubungkan wilayah Purwodadi ini, ada sebuah cungkup yang tak terurus mengucilkan diri dari keramaian. Tempat ini oleh masyarakat dikenal sebagai Punden Kedono Kedini yang sering digunakan untuk mangiwo cari pesugihan. Hutan lindung yang tinggal sejengkal ini masuk wilayah kecamatan Jenar, kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Peristiwa incest yang berakhir tragis ini terjadi pada masa kerajaan Medang Kamulan, dibawah kekuasaan Sang Prabu Girindrawardana. Kebetulan wilayah Medang Kamulan (Puwodadi) memiliki jalan setapak yang terhubungkan dengan wilayah Sukowati (Sragen) ini.

Jalan setapak ini sering digunakan untuk lewat para pedagang yang ingin berjualan ke daerah tersebut. Kebanyakan pedagang yang lewat daerah ini adalah pedagang dari Kuwu (Purwodadi) untuk berjualan garam. Pada saat itu di wilayah pedalaman garam merupakan bahan yang cukup mahal.

Kebetulan di tengah hutan ini hidup sepasang muda mudi yang mereka sebenarnya adalah kembar namun berlainan Kelamin.
Orang Jawa menyebutnya Kedono Kedini.

Menurut tradisi, mereka bila tumbuh dewasa harus dikawinkan, karena dianggap sudah membawa jodoh dari dalam kandungan. Dan
hal itupun berlaku pada pasangan muda mudi ini.

Saat menjelang dewasa, Kedono pamit pada orang tuanya mencari kerja di Kerajaan Medang Kamulan. Dia merantau untuk membiayai pernikahannya dengan Kedini. Lebih dari satu tahun ia berada di kota Medang Kamulan. Setelah dirasa cukup untuk bekal pernikahannya, ia segera pulang. Sampai di rumah, Kedono disambut Kedini dengan mesra. Diajaklah Kedini berduaan di tengah hutan. Saat melepas rindu ini, tiba-tiba Kedono melihat perut Kedini agak membesar. Dan ketika disentuh ada yang bergerak-gerak di dalamnya.

Seketika timbullah kecemburuannya. Diambillah kayu sebesar tangan orang dewasa dan dipukullah kepala Kedini hingga meninggal dunia, tanpa bertanya terlebih dahulu. Tubuh tak berdosa itu terkulai lemas, dan tiba-tiba dari jarik Kedini keluar binatang Cuvu (kepiting) yang cukup besar.

Kepiting raksasa ini hewan kesayangan Kedini sejak kecil, yang ke mana-mana selalu dibawa dan ditaruh dalam perutnya. Kecemburuan telah menggelapkan Kedono. la sangat menyesal, dan akhirnya bunuh diri di tempat ini juga. Mayatnya memeluk Kedini dengan penyesalan yang tak mungkin ditebus oleh lamanya abad. Mayat mereka ditemukan oleh seorang Kuwu (tetua wilayah) dari Kuwu Purwodadi. Lalu dikebumikan di tempat tersebut. Lama-lama kuburan mereka dikenal dengan Punden Kedono Kedini.

Suatu hari ada seorang pedagan dari Kuwu yang kelelahan di tempat ini. Dia kemudian berisitirahat di kuburan Kedono Kedini hingga tertidur. Saat dalam pelukan sang mimpi, alam bawah sadarnya bertemu dengan gaib yang menjaga kawasan ini. Menurutnya ia dijumpai oleh ular siluman berkepala manusia cantik. Dalam mimpi itu dia diperintahkan untuk mengorbankan “tumbal” bila ingin kaya duniawi. Korban yang diminta adalah bocah yang lahir kembar berbeda kelamin, yang disebut Kedono-Kedini.

Saat itu kebetulan pedagang yang miskin itu punya anak Kedono-Kedini, tanpa pikir panjang keduanya dikorbankan. Sejak itulah, ia menjadi manusia terkaya di wilayah Medang Kamulan. Rahasianya terbongkar juga oleh sahabat dekatnya yang ikut-ikutan mengabdi setan penunggu punden Kedono-Kedini.

Apakah punden ini juga masih angker? Beberapa waktu lalu seorang pencari kroto (sarang telur semut) tiba di tempat ini. Saat baru nyenggreki, tiba-tiba didahan depan kuburan Kedono-Kedini itu, ia melihat ular sebesar paha orang dewasa bergantungan.
Dan yang lebih membuat dia terkejut setengah mati, kepalanya berupa manusia perempuan yang cantik tersenyum padanya. Larilah ia dengan sekuat tenaga hingga di desa terdekat, yang jaraknya lebih dari 5 kilometer.

Menurut sumber yang dihubungi Paranormal-Indonesia.com, sekarang ini sudah jarang orang yang mencari pesugihan di tempat itu. Mungkin karena jarangnya itu, maka setan penunggu tempat ini tidak lagi mensyaratkan korbannya harus kembar Kedono-Kedini. Apa saja boleh, mungkin ia sudah kelaparan. Saat Misteri tiba di tempat ini hujan begitu deras mengguyur bumi. Basah kuyup lagi, sebab musimnya memang sedang penghujan (rendeng). Yang mengejutkan, di cungkup Punden Kedono-Kedini, ditemukan kain mori putih yang masih baru dan beberapa keping uang logam kuningan, bunga segar, dan beberapa batang hio. Sepertinya, barusan ada orang yang sedang berkolaborasi dengan pesugihan Kedono-Kedini ini lagi.

Paranormal-terbaik.com tertarik untuk melihat kehidupan gaib tempat ini, meski sebenarnya enggan ngambah wilayah lelembut golongan ekstrim kiri. Terlebih dahulu Misteri ragakan Aji Kolocokro agar tak tersengat aura negatif tempat ini..

YAA ALLAH (11 x) ‘YAA QUDUS (11x) YAA SALAM (11 x)

Gumpalan aura kuning keemasan melingkupi tubuh, untuk benteng gaib energi negatif yang memancar di tempat ini. Dalam manekung Sujud Bumi, penyatuan.Karsa, rasa, dan cipta nyawiji melebur dalam keheningan tunggal dan terbukalah tirai maya dunia ini. Dan, munculah sosok gaib yang merdanyang di tempat ini. Ujudnya seekor ular berwarna hijau muda, namun kepalanya benar-benar manusia yang cukup ayu. Wajahnya pucat pasi, dan matanya menunjukkan wajah yang tak bersahabat.

Beberapa kali Paranormal-Indonesia.com mencoba mengontak ular siluman tersebut dibantu Ki Sabhoe, namun sangat sulit, bahkan berulang kali ia menyerang, namun terpental cukup jauh. Tak ada yang dapat terkorek. Hanya suara desisnya yang terdengar sayup menembus telinga, “sst…z…z… , aku Blorong akan menuntut balas…….. ,” setelah itu menghilang.

Dasar setan, tak ada sedikitpun kebaikan yang tersisa dalam dirinya. Di matanya hanya ada iri, dengki, jahil dan methakil. Apakah kita sebagai manusia yang diberi akhlak mulia hanya akan merendahkan diri mengabdi pada setan rendahan seperti itu. Daripada mengabdi jadi setan mendingan jadi iblisnya sekalian.

Di cungkup Kedono-Kedini ini tinggal sosok gaib berujud Cuyu. Tampaknya binatang ini lebih mulia dari ular siluman dan manusia pengabdi setan betina tersebut. Nyatanya ia masih dengan setia menunggui jasad yang sudah menjadi tanah junjungannya. Dialah Kepiting, hewan kesayangan Kedini.

Dari pengakuannya, ia bernama Yuyu Rumpung. Ia setia menunggui kuburan Kedini yang dibunuh Kedono untuk balas budi meski tak terhitung oleh abad. Yuyu Rumpung tak rela, tempat junjungannya dijadikan ajang pengorbanan manusia berhati setan. Namun energinya tertutup oleh Blorong tersebut. Setidaknya ia melindungi kawasan tuannya yang hanya sejengkal bumi.

Sebaiknya memang tidak mendekati tempat ini. Lebih banyak negatifnya daripada manfaatnya, bagi orang yang masih mengaku sebagai manusia, khalifah di muka bumi ini. Kalaupun Paranormal-Indonesia.com menyajikan berita ini, agar pembaca tahu kalau lewat di tempat ini berhati-hati dan bahwa fenomena melenceng seperti ini masih ada dan tumbuh subur di sekitar kita. Buktinya, masih ada kain mori baru di tempat itu. ©️ #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here