Kisah Kyai Pamungkas: KERANDA TERBANG DI SETU SEBERANG

0
93

Kisah Kyai Pamungkas:
KERANDA TERBANG DI SETU SEBERANG

Warga Desa Setu Seberang dikejutkan oleh keranda terbang. Beberapa hari ini, kendaraan pengangkut mayat itu lalulalang di daerah Cisauk dan Parungpanjang, Banten Timur, digotong empat jin berbaju hitam. Sebuah pertanda gaib akan wabah penyakit pembunuh massal…

Di Desa Setu Seberang, Tangerang, 1 Banten, 28 maret 2004 lalu, heboh. Di siang bolong sekitar pukul 14.30 WIB, sebuah keranda warna putih terbang melintas di atas rumah penduduk. Keranda yang tengah mengapung sekitar 10 meter dari tanah itu tengah dipikul oleh empat laki-laki berpakaian hitam dan berewokan semua. Saksi mata yang pertama melihat, Haji Najamudin, 45 tahun, yang sedang bertanam jagung, langsung lari memberi tahu penduduk lain. Warga yang diteriakipun, segera keluar rumah dan melihat keranda itu terbang dengan kecepatan sekitar 30 km perjam. “Lihat, lihat, itu kurungan batang terbang!” teriak saksi mata lain, Jumilah, 34 tahun, memberitahu tetangga belakang rumah. Karena teriakan Jumilah sangat keras, maka hampir seluruh warga desa Setu Seberang keluar rumah dan dapat menyaksikan pemandangan gaib itu.

Keranda terbang, memang sering terjadi di Pulau Jawa. Keranda itu bukanlah keranda benaran, tapi keranda gaib yang dibawa oleh pemikuk-pemikul gaib. “Laki-laki berewok memakai baju serba hitam itu adalah jin penghuni makam keramat. Jin itu memberitahukan pada warga bahwa akan datang wabah penyakit yang mematikan di daerah itu. Maka itu, peduduk harus waspada dan rajin sembahyang dan berdoa meminta pertolongan Tuhan!” ujar Wikasa, 67 tahun, paranormal yang mukim di kompleks Griya Suradita, pada Paranormal-Indonesia.com.

Kabar tentang keranda terbang, atau “Kurungan Batang” dan “Pusaran” berdasarkan bahasa setempat yang terbang itu, akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Banten Timur. Terutama di kalangan warga di dua kecamatan, baik Cisauk maupun Parungpanjang. Maka itu para lurah, camat dan ulama setempat sepakat untuk melakukan sholat istigarah dan istigosah minta pada Allah dengan khusuk agar penyakit yang bakal datang itu dapat dimusnahkan. “Kita minta supaya wabah itu tidak jadi datang dan penyakit itu dilarung ke laut selatan!” kata Kiyai Hasan Sadikun, 39 tahun, ulama desa Bendaran, yang langsung mengajak warga untuk segera melakukan sholat beramai-ramai di lapangan terbuka, minta supaya bencana yang dikabarkan Keranda Terbang itu dapat digagalkan.

Keranda terbang sebagai isyarat gaib akan datangnya suatu wabah, sudah berulang kali terjadi di Banten. Tahun 1890an lalu, pernah satu warga yang tinggal di wilayah Pandeglang dan Serang melihat keranda terbang. Saat itu warga belum tahu kalau keranda terbang itu menjadi pertanda bahwa akan datang wabah penyakit yang akan diturunkan Allah untuk manusia. Maka Itu, sholat massal tidak dilakukan dan warga lengah mensiasati pertanda itu. Tiga puluh
hari setelah keranda terbang, penyakit wabah penyakit kolera menyebar ke seluruh Banteng. Tidak kurang 10 ribu warga meninggal dunia akibat penyakit itu dan para hali kebatinan tidak satupun yang dapat mengatasinya.

Tahun 1940-an, isyarat itu kembali datang. Kurungan batang yang digotong empat laki-laki berbusana hitam, mengapung di atas kampung dan berkeliling kecamatan. Warga Banten melihat keranda terbang dan kali itu 75 persen penduduk sudah tahu bahwa keranda itu menjadi pertanda gaib. Maka itu, warga segera berkumpul di lapangan dan bermunajat pada Allah meminta agar penyakit kolera itu tidak kembali datang. Benar saja, penyakit itu datang, beberapa orang menjadi korban keganasan kolera. Tapi karena penduduk sudah mengantisipasi, maka kolera itu hanya meminta beberapa korban nyawa saja. Tidak sampai ratusan orang. Tahun 1978 lalu, pertanda gaib itu muncul lagi. Keranda Terbang itu melintas di atas Rangkasbitung dan Ciboleger. Para Kyai dan pemuka agama setempat langsung melakukan solat massal di lapangan terbuka dan penyakit kolera itu pun tidak sampai menelan banyak korban nyawa.

Sekarang, di ujung maret 2004, pertanda gaib Keranda Terbang kembali datang. Diperkirakan, pada musim kemarau mulai dari bulan Juni 2004 hingga Desember 2004 nanti, akan datang wabah penyakit lagi, entah penyakit apa namanya. Bisa kolera, bisa demam-berdarah atau bisa pula tipes dan radang ternggorokan. Tapi yang jelas, warga harus kompak, terutama yang beragama Islam utnuk melakukan sholat massal di lapangn terbuka, intensif meminta bantuan Allah agar penyakit itu tidak jadi datang. “Bila penyakit itu berbentuk debu yang dibawa oleh angin, hendaknya debu penyakit itu dipindahkan ke laut selatan di mana di sana tidak ada penduduknya. Biarlah ikan paus dan ikan hiu yang mati di samudera Hindia, bukan manusia!” kata Kyai Hasan pada Paranormal-Indonesia.com. Menurut Sang Kyai, penyakit itu bisa diusir sebagaimana juga keberadaan makhluk halus yang jahat yang tidak kita kehendaki, bisa diusir.

Tentang Keranda Terbang yang banyak ditakuti anak-anak, menurut Kyai Hasan, tidak perlu terjadi. Artinya keranda penampung mayat ke kuburan itu, tidak akan membinasakan manusia. Keranda itu hanya melintas dan terbang ke satu tujuan, lalu menghilang di balik awan. Tidak ada yang perlu dikuatirkan apabila keranda itu melintas. Tapi sebagai muslim diwajibkan mengucapkan Basmallah dan baca Al Fatihah, Surat An Nas dan Al Falag. Paling tidak sebut Allahu Akbar dan baca Basmallah. “Keranda terbang hanya pertanda gaib, sama seperti pelangi dan gerhana bulan!” tutup Kyai Hasan, sambil melibat sorbannya yang panjang. ©️ #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here