Kisah Kyai Pamungkas: Berburu Mustika Ular

0
136

KISAH KYAI PAMUNGKAS:
BERBURU MUSTIKA ULAR

Adzan Maghrib membahana di seantoro jagad, matahari baru saja tenggeIam di ufuk barat. Burung-burung malam hinggap di atas daun-daun pohon rambutan yang Iebat. Suaranya sesekali terdengar berkoak memecah keheningan senja. Jalanan setapak yang kami lalui bersama rombongan terasa begitu panjang dan licin. Begitu juga ranting-ranting kering dan kerikil membuat langkah kami terhalang. Perjalanan kami kali ini merambah sebuah daerah yang terkenal angker, Muara Lindung.

Entah mengapa masyarakat sekitar menamakan daerah ini dengan sebutan Muara Lindung. Konon menurut ceritanya daerah ini memang muaranya atau tempatnya lindung yang sangat banyak bahkan menurut kesaksian Engkong Haji ada lindung yang besarnya diperkirakan sebesar pohon rambutan yang menurutnya itu adalah lindung siluman.

Menurut penuturannya, yang menjadikan tempat ini begitu angker ialah ketika suatu hari warga ingin menebang sebuah pohon bambu. Setelah satu-persatu batang pohon bambu ditebang, ketika penebangan sudah mencapai setengahnya, seorang warga melihat sesosok ular hitam Iegam sebesar pohon kelapa tengah melingkar di sela-sela pohon bambu. Yang lebih mengherankan, desis ular itu terdengar seperti desis manusia yang tengah marah. Matanya melotot memperhatikan orang-orang yang tengah sibuk menebang bambu.

Dengan sisa keberanian yang tingga separuh, warga pertama yang melihat ular itu berteriak sambil berlari. Teriakannya tentu saja mengagetkan orang lain yang tak tahu apa-apa. Tapi mendengar teriakan itu, spontan warga lain pun ikut ngibrit menyelamatkan diri masing-masing. Merasa terusik dengan teriakan dan kegaduhan warga ular itu memperlihatkan keganasannya. la mengangkat kepala sambil menjulur-julurkan lidahnya ke sana kemari.

Di tengah kepanikan warga, masih ada beberapa orang yang memberanikan diri menghadang ular itu. Sayang Engkong Haji lupa namanya, maklum peristiwa itu sudah lama terjadi. Sambil menghisap rokok cerutu, Kong Haji melanjutkan ceritanya. Dengan sebatang bambu runcing beberapa orang warga melawan makhluk yang diyakini ular siluman itu. Namun sang ular siluman itu tidak berdiam diri saja. ia menyerang beberapa orang dengan sabetan ekornya dengan cepat.

Seorang warga yang tidak siap terkena sabetan ekor ular itu. Tak lama berselang ular itu pun menyambar orang yang terkena sabetannya. Beruntung ia tidak sampai dimasangnya, alhasil orang itupun selamat. Setelah beberapa lama pertarungan yang menegangkan ini berlangsung ular siluman itupun menghilang. Orang-orang yang berada di situ menjadi lebih terheran-heran dan ketakutan dengan kejadian tersebut. Mereka khawatir kalau-kalau ular itu langsung muncul di belakang mereka. Namun setelah beberapa lama ditunggu ternyata ular siluman itu tidak muncul juga.

Lalu dengan setengah memaksakan diri salah satu dari mereka mendekat ke tempat ular itu menghilang. Tapi setelah diperhatikan dengan seksama sang ular itu memang tidak ada di tempatnya. Tapi peristiwa lain terjadi setelah ular itu menghilang. Warga yang memberanikan diri mencari ular di tempatnya menghilang itu malah menemukan sebuah batu akik. Konon inilah yang dinamakan Mustika Dewa Ular.

Kisah inilah yang membuat kami tertarik sehingga mendatangi Muara Lindung. Tiba di tujuan kami menemui seorang warga yang begitu ramah dan baik. Ia mau menerima kami bertamu ke rumahnya. Bapak Arif Rahman nama orang tua itu. Pak Rahman bercerita panjang lebar mengenai daerah tempat tinggalnya.

Menurut pak Rahman ia baru saja menempati rumahnya pada bulan Ramadhan tahun lalu. Ia menuturkan banyak cerita menyeramkan dan berbau mistik terjadi di rumahnya baik sebelum rumahnya ia tempati maupun setelah ia tempati. Perlahan kami mulai menanyakan perihal cerita tentang Mustika Dewa Ular yang fenomenal itu.

Menurut penuturan pak Rahman, rumah yang ia tempati ini dulunya adalah tempat dimana ular siluman yang diceritakan Kong Haji itu menghilang. la membenarkan dan tidak menampik perkataan orang bahwa rumah yang ia tempati ini mejadi angker seperti kejadian yang ia alami sendiri. Pak Rahman menuturkan bahwa sering merasakan ada orang yang menyapu di atas atap rumahnya dan kejadian-kejadian lainnya yang menyeramkan.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, barulah tim kami memulai untuk perburuan Mustika Dewa Ular. Setelah syarat-syarat yang diperlukan untuk melakukan ritual sudah tersedia barulah tim berkumpul di sebuah pohon bambu yang dahulu merupakan sarang ular itu.

Kami ritual ditemani seorang praktisi spiritual yang biasa dipanggil Kyai Pamungkas yang bertempat tinggal di daerah Kramat Jati Jakarta Timur. Setelah melakukan ritual yang merupakan syarat untuk bertemu penguasa alam gaib di daerah tersebut, kemudian semua anggota tim disuruh menunggu oleh Kyai Pamungkas. Ini yang membuat kami bertanya-tanya di dalam hati, menunggu apa kita di sini?

Setelah lama menunggu, tiba-tiba angin malam yang dingin menusuk seluruh tubuh menjadi hangat dan lama kelamaan menjadi sangat panas. Kemudian di balik batang-batang bambu terlihat dua warna kemerah-merahan yang ternyata merupakan kilatan sepasang mata dari penunggu gaib kawasan Muara Lindung.

Penguasa alam gaib daerah itu mendekat dan berdiri di hadapan semua orang. Terlihat sosoknya adalah seekor ular besar dan suaranya berdesis. Keadaan semakin tegang. badan kami terasa lemas tak bisa digerakan. Kemudian Kyai Pamungkas berbisik kepada kami, “Ayo cepat katakan maksud kita kemari!”

Namun bibir kami terasa terkunci sehingga tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Namun dengan segera Kyai Pamungkas mengambil tindakan, ia memulai bicara dengan penguasa alam gaib daerah itu. “Kami semua mohon maaf atas kedatangan kami yang mengganggu ini, kami ke sini berniat untuk mencari Mustika Dewa Ular,” tuturnya dengan suara yang amat berwibawa.

Lalu dengan suara yang berat dan besar penguasa alam gaib itu berkata, “kalian terlambat, mustika yang kalian cari itu sudah tidak ada di tempat ini. Sekarang ada di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Solo. Ada orang yang sudah berhasil mengambil dan dibawanya ke sana.”

Kyai Pamungkas bertanya lagi, “Sebenarnya siapa nama tuan ini dan mustika ular itu apa hubungannya dengan tuan?”

Ular siluman itu menjawab, “Aku Prabu Malingga, penguasa alam gaib di sini. Sedangkan mustika itu sebenarnya adalah ratuku yang bernama Nyai Hijau yang berubah wujud menjadi mustika ular itu.”

Setelah melewati masa yang menyeramkan itu, kami semua mengerti. Kemudian sebelum beruluk salam untuk pamit, Kyai Pamungkas menghaturkan terima kasih kepada Prabu Malingga atas pemberitahuannya tentang di mana Mustika Dewa Ular itu berada.

Dengan rasa kecewa yang mendalam karena tidak berhasil menemukan mustika itu, kami dan anggota tim lainnya berjalan pulang meninggalkan tempat itu. Namun perburuan mustika itu belum selesai sampai disini saja. Menurut Kyai Pamungkas perburuan ini akan dilanjutkan setelah tim mendapat kabar gaib dimana Mustika Dewa Ular itu berada. Siap berburu kitaaa… #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here