Kisah Kyai Pamungkas: Balada Operasi Plastik

0
169

Kisah Kyai Pamungkas:
BALADA OPERASI PLASTIK

Aku sangat ingin cantik seperti Titiek Puspa. Walau sudah berumur Iebih dari 60 tahun, tapi muka Mbak Titiek Puspa itu kelihatan selalu segar, kencang dan cantik. Selain jadi cantik, artis dan pencipta Iagu senior itu nampak awet muda.

Mas Narto Irawan, suamiku, belakangan kelihatan bosan kepadaku. Aku membuktikan dengan mata kepala sendiri dia menggandeng cewek muda yang seksi dan mengundang. Pikirku, Mas Narto berpaling karena wajahku tidak cantik lagi. Kulit Ieherku sudah melunak, mengendur dan ngewer seperti beber ayam. Bahkan makin lama kulit mukaku berkerut-kerut mirip nenek sihir. Padahal umurku belumlah setua Mbak Titiek Puspa. Dari membaca sebuah iklan di sebuah tabloid tentang operasi wajah cara mistik, tibatiba aku langsung tertarik. Aku buru-buru menelpon dan langsung diperintahkan datang ke daerah Jakarta Selatan untuk menemui paranormal yang menggunakan jasa jin gunung itu. Aku diminta membayar sejumlah uang yang cukup besar walau dengan istilah yang dikemukakan cukup sumir, mas Kawin.

Karena uang bukan masalah bagiku sebagai pemilik toko besar di daerah Glodok Jakarta Barat itu, aku langsung mengangguk. Jangankan hanya puluhan juta, ratusan juta pun aku mampu membayar, asal wajahku benar-benar cantik dan tubuhku menjadi muda kembali.

Yang dilakukan paranormal itu ternyata bukan cara mistik, tapi cara suntik silikon. Hidung, pipi, bibir dan leherku disuntik silikon! Karena sudah bayar dan siap mental untuk jadi cantik seperti Titiek Puspa, maka aku pasrah saja kepada sosok “ahli kecantikan” supramistis itu. Keluar dari ruang operasi, jantungku berdetak kencang. Rasanya aku tak sabar ingin melihat wajahku setelah dipermak. Sebuah kaca besar di depan mataku telah disiapkan dengan rapih. “Oh Tuhan!” pekikku. Wajah ku benar-benar berubah jadi cantik dan aku nyaris tak mengenali wajah ku sendiri. Aku benar-benar mirip Mbak Titiek Puspa bahkan mirip pula dengan Helen Sparingga. Hidung yang tadinya pesek tibartiba jadi mancung, bibirku yang tadinya rata, tiba-tiba jadi berbelah tengah dan sensual. Pipiku yang tadinya kendur tiba-tiba menjadi kencang. Sementara itu, kulit Ieherku yang tadinya lunak, kini menjadi keras dan padat. “Terima kasih pak, terima kasih!” pekikku pada ahli kecantikan itu.

Aneh bin ajaib, pada malam harinya hatiku jadi gelisah. Mataku tidak dapat dipejamkan dan jantungku berdegub kencang. “Ada apa ini?” bisikku, pada Enoh, pembantu setiaku yang sudah 10 tahun ikut keluargaku. Malam itu Mas Narto memang tidak pulang, ia pamit untuk terbang ke Hongkong dengan pesawat China Airlines untuk membeli beberapa barang dagangan. Dari loteng kamar tidurku, tiba-tiba muncul asap putih berputar-putar sekitar plafon. Dalam hitungan detik, asap itu lalu berubah menjadi seperti manusia; Aku berteriak minta tolong, tapi tak ada seorang pun yang mendengar suaraku. Enoh tidak mendengarkan, begitu juga dengan Amran anak tunggalku yang sudah berumur tujuh tahun. Sosok misterius yang muncul ternyata diriku sendiri. Wajahku sebelum melakukan suatu operasi.

“Wajah yang muncul itu adalah wajah saudara kembarmu. Saudara ada dua orang. Semua itu saudara gaib. Yang satu berumur Iebih tua darimu, namanya Kakak Kawah, sedangkan adik adalah Adik Ari-ari. Jadi kakak sulung dari air ketuban, sedangkan adik adalah sosok ari-ari yang Iahir sesudah kamu keluar dari rahim ibu. Dua bersaudara itu ada walau tidak kasat mata. Karena kamu melakukan operasi perubahan wajah dan tidak minta ijin pada mereka, maka itu mereka marah. Kalau mereka marah, mereka menampakkan diri. Maka dari itu kamu harus melakukan ritual tertentu akan mereka menjadi tenang” kata Paman Sairun, saudara laki-laki papaku.

Paman Sairun marah besar padaku, kenapa aku merubah wajah asliku yang notabene ciptaan Allah itu. “Perbuatan merubah wajah adalah perbuatan yang bisa mengarah pada perbuatan musyrik dan bertentangan dengan akidah. Maka itu, kau harus minta maaf pada Allah dan kedua saudara kembarmu itu!” tekan Paman Sairun yang biasa ku panggil Aby itu. Tapi aku berusaha berdalih sesuai ucapakan Sang Pakar perombak wajahku. “Allah kan menciptakan manusia dengan otak dan kepintaran tertentu. Karena Allah memberikan otak pada manusia, maka otak itu harus digunakan dan dimanfaatkan sebesar mungkin untuk menemukan teknologi bermacam-macam cabang, diantaranya teknologi mempercantik diri. Bukankah menggunakan otak pemberian Allah ini sebagai sesuatu upaya untuk memuliakan ciptaanNya, ciptaan Allah juga, kan aby?” tanyaku, penasaran.

Paman Sairun agak terdiam. Dia nampak berfikir panjang dan berusaha menemukan argumentasi yang kuat untuk mempersalahkanku melakukan operasi itu. “Secara alami setiap manusia akan berubah dengan sendirinya. Kalau mudanya cantik, tuanya jadi buruk. Kalau masa mudanya berkulit kencang, masa tua menjadi keriput. Hal itu secara alamiah akan terjadi pada siapapun. Memang sudah jadi kehendak Allah, bahwa setiap manusia akan menjadi tua dan keriput. Tapi aby, bukankah Allah menciptakan kelebihan-kelebihan tertentu di otak manusia dan manusia harus memanfaatkan semaksimal mungkin karunia Allah itu, yaitu mencari dan menemukan suatu teknologi yang mampu mencegah penuaan itu. Umur memang pasti menua, tapi teknologi temuan manusia ini bisa sebagai piranti untuk mengatasi penuaan alamiah itu. Paling tidak, bisa terlihat muda walau sudah berumur tua. yang tentu saja dengan ragam pertimbangan kemanusiaan. “Saya ingin cantik supaya tidak ditinggal suami pada wanita lain, aby. Bukankah hal itu manusiawi saja, kan?” tanyaku, tak menuntut jawab.

Baru kali itulah aku berani mengemukakan pendapat yang agak berani pada aby. Dan baru kali itu pula aku melihat aby tidak berkutik. Aby nampak kalah argumen denganku karena memang aby belum siap betul dengan fenomena operasi kecantikan wajah itu. Tapi aku salut pada abyku itu.

Aby seorang ahli agama yang cukup disegani dalam masyarakat, mengaku salah dan kalah mendengar ungkapanku. “Kalau begitu, aby yang salah barangkali. Aby nanti mencari solusi dari kasus ini. Aby akan mencari ayat atau hadits yang bisa dijadikan patokan, dan mungkin bisa aby kasih masukan pada Majelis Ulama ke depan. Mana tahu bisa menjadi fatwa!” ungkap aby, sambil berlalu.

Abyku pergi dengan senyum dikulum dan sedikit bangga melihat keponakannya sudah berani berargumentasi. Hingga sekarang, aby belum menemukan argumen yang kuat untuk mempermasalahkan halal atau tidak halalnya operasi wajah itu. Aby bahkan mengaku bahwa dia belum menemukan apa-apa di AI Qur’an dan hadits yang memungkinkannya untuk menghajar fenomena yang marak itu. Terlepas dari masalah aby, aku bersyukur karena Mas Narto menerima dengan tangan terbuka upaya ku untuk operasi itu.

Bahkan Mas Narto malah memujiku sebagai wanita yang cantik dan sensual. “Kamu benar-benar cantik” pujinya. Hatikupun berbunga-bunga dan bahagia bukan alang kepalang. Teman-temanku juga memuji, bahkan banyak yang tergoda ingin ikut operasi di tempatku melakukan eksekusi perubahan wajah itu.

Tiga bulan setelah operasi, wajahku tiba-tiba menjadi gatal. Hidung, mata, bibir, pipi dan leherku semuanya gatal. Karena sering digaruk, beberapa bagian kulitku menjadi luka. Luka yang tak kunjung sembuh itu berubah bentuk menjadi koreng dan bernanah. Lama kelamaan wajahku seperti lilin yang meleleh karena api. Rontok dan lodoh. Melihat kenyataan ini, aku tentu menjadi panik dan gundah gulana.

Lewat seorang teman, aku mendatangi Kyai Pamungkas, pakar supranatural “setengah kyai” yang mengobati pasien berdasarkan cara cara Islami dan Al Qur’an di Jakarta Timur. Kyai merawat wajahku yang rusak selama empat jam di rumahnya dengan jampi-jampi dan air putih. Dari mukaku tiba-tiba keluar ulat belatung yang busuk dan beberapa gelas nanah yang bau. “Selain kembaran Anda tidak menerima operasi wajah, ternyata ada orang yang membenci Anda juga Ialu mengirim santet pada wajah Anda hasil operasian itu. Anda menjadi korban Teluh Jatnia, suatu teluh yang merusak wajah hasil operasi plastik. Sebenarnya ada dua usaha sejenis yang saling bersaing. Persaingan itu tidak sehat. Salah satu dari uasah itu, mengirim santet saat Anda melakukan operasi .itu. Karena Anda sedang berada di tempat itu, Andalah yang kena” kata Sang Kyai.

Di luar itu, kata Kyai Pamungkas, saudara kembar gaib ku juga menolak. Kakang Kawah, adi ari-ari marah karena wajahku tidak dikenali lagi oleh mereka. Saudaraku itu menjauh dan dia tidak akan lagi melindungi aku bila nampak kesulitan. “Setiap kita dalam kesulitan, bila saudara kembar ini dekat, dia akan membantu kita. Misalnya, mobil hancur karena tabrakan besar, tapi nyawa selamat, maka keselamatan itu terjadi karena peran serta kembaran gaib ini. Sudah pasti bahwa Anda telah diselamatkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Tapi penyelamatan itu diciptakan oleh melalui kekuatan dunia, yaitu kekuatan ‘tangan’ gaib kedua saudara kembar Anda itu. Saudara kembar ini akan berfungsi dengan baik dan berlaku efektlf, bila saudara kembar itu difungsikan optimal. Cara memfungsikannya adalah dengan menghargainya, yaitu mengajaknya berdialog sebagai lanyaknya pada manusia yang hidup. Mengajaknya ikut makan sebelum Anda makan. Berbicara padanya sebelum tidur dan mengiriminya Al Fatihah setiap usai sholat. Faham?” kata Kyai Pamungkas. Apa yang dikatakn oleh Kyai Pamungkas, sama persis dengan apa yang dikatakan oleh abyku, Paman Sairun beberapa waktu sebelumnya.

Ritual yang dilakukan Kyai Pamungkas, dua sesi. Sesi pertama membuang teluh yang sudah masuk ke wajahku, yang kedua ritual meminta maaf pada saudara gaib dan mengundangnya kembali datang. “Kalau dia sudah datang, apa permintaanmu?” tanya Kyai Pamungkas. Dengan malu-malu aku meminta agar wajahku disembuhkan secara total dan kembali ke wajah lama, tetapi cantik. “Oke, kita berdoa bersama dan mudah-mudahan Allah mengabulkan” desis Kyai. Kami pun berdoa dengan khusuk, sementara di depanku diletakkan sebuah gelas berisi air putih, air doa yang kami layangkan hari itu pada Allah SWT.

Di luar dugaan, sosok dua wajahku muncul di samping kiri dan kananku. Dari bentuk rambut, tubuh dan perawakan keduanya sama persis dengan sosokku. Kata ustad, kami adalah three in one. Sebelah kananku Kakang Kawah sementara di kiriku adalah Adik Ari-ari. Sesuai perintah, aku sebut apa yang akan ku minta. Dan hari itu, ku minta agar wajahku sembuh total dari penyakit yang ku derita dan wajahku kembali seperti wajah dulu namun cantik dan segar. Setelah aku habis bicara, dua sosok itu menghilang dan tidak terlihat Iagi. “Dia tetap ada di sekitarmu dan sudah kembali seperti dulu” bisik Kyai Pamungkas.

Tiga hari setelah dirawat pak kyai, wajahku benar-benar kembali seperti dulu. Semua benda silikon yang ada di dalam wajahku keluar secara gaib. Begitu juga dengan zat-zat kimia Iain yang ada di kelopak mata, belahan bibir dan pipiku, tanggal secara mistik. Alhamdulillah wajah ku sembuh total dari koreng dan wajah operasian secara mengagumkan kembali seperti wajah lama, walau butuh waktu untuk normal kembali. “Anda akan cantik alamiah seperti dulu, yakinlah” kata Kyai. Benar, orang-orang bilang bahwa aku kini terlihat jauh Iebih muda, segar dan bersinar. Sementara saudara kembar gaibku, kurasakan selalu ada di sekitarku, walau tidak pernah menampakkan diri lagi. Sementara peneluh jahat itu, sudah ku ketahui rupanya dan ku maafkan. “Bahkan doakanlah agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan dia kembali ke jalan yang benar. Kau harus ikhlas pada pembuat teluh itu dan jangan sekali-kali menyimpan dendam padanya” nasehat ustad, yang hingga sekarang ku pegang terus. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here