Kisah Kyai Pamungkas: Kesetiaan Khodam Keris

0
143

Kisah Kyai Pamungkas:
KESETIAAN KHODAM KERIS

Berpegang dari cerita salah seorang supir angkot trayek Citereup Kp. Lulut, paranormal-indonesia.com tergelitik untuk mencoba menguak komunitas gaib yang mukim di salah satu goa yang terletak di belakang pabrik semen Cibinong: Goa Gajah.

Dan sejak tiba di pertigaan jalan, tepat di samping bukit batu yang menghijau, sebenarnya paranormal-indonesia.com sudah dijemput oleh seekor walet putih. Salah satu Iasykar gaib kepercayaan Mas Paniwen.

“Silahkan berbelok ke kanan, kedatangan Andika sudah ditunggu oleh paduka ..,” demikian kalimat yang tertangkap dalam gendang telinga paranormal-indonesia.com. Setelah berbasa-basi dengan salah seorang keluarga penjaga tempat itu,

akhirnya kamipun diperkenankan masuk. Dengan catatan, dilarang masuk ke tembok lapis kedua atau menuruni goa, dan hanya menuliskan seputar mistik tempat itu.

Setelah mengambil gambar dan menoIeh ke arah pintu gerbang, di situ berdiri sesosok tubuh tinggi besar yang memberi isyarat agar kami segera mohon diri. la mengaku bernama Mas Paniwen. Dengan serta merta kami pun mengikutinyahingga tibalah kami di sebuah makam tua yang terawat apik dan berada di tengah-tengah kebun rambutan yang sedang berbuah lebat. “Ini adalah makam dari salah satu keturunan Mbah Simbarjaya. Tokoh yang berhasil membuka daerah ini pada tahun 1711,“ ujarnya.

“Dan jika dirunut ke atas, ia adalah keturunan yang kedua puluh tiga dari penguasa Keraton Pasir Luhur. Suatu kerajaan besar yang sekarang berada di salah satu sudut kota Pumokerto,” imbuhnya lagi.

Dan ketika hati hendak menanyakan siapa dan mengapa dia menjadi penguasa gaib di tempat itu, sambil tersenyum, Mas Paniwen pun menceritakan asal usulnya. Sebenarnya ia adalah khodam dari sebuah pusaka yang merupakan sipat kandel (senjata andalaan) dari Mbah Simbarjaya yang pada zamannya memiliki sebelas orang pengawal kepercayaan. Waktu terus berlalu. Entah kenapa, pada suatu ketika, walau telah dicegah dan diingatkan oleh salah seorang temannya, kesepuluh pengawal itu berencana untuk membunuh tuannya. Simbarjaya.

Skenario pun disusun. Bahkan senjata untuk membunuh yang berupa tombak pendek, ampuh dan beracun telah mereka sewa dari salah seorang jawara yang mukim di daerah Cibubur. Dan pada malam yang telah ditentukan, Simbarjaya sengaja diundang untuk menghadiri perhelatan yang diadakan di rumah salah seorang di antara mereka. Di tengah jalan yang sepi dan gelap, Simbarjaya pun dihadang oleh kesepuluh orang kepercayaannya. Sementara, seorang di antara mereka dengan gagap dan ketakutan terus saja berusaha mengingatkan teman-temannya agar mereka menghentikan niat jahatnya. “Gak usah ikut campur. Hari ini, Simbarjaya harus mampus dan kita bakal menjadi penguasa di sini!” Teriak sang pemimpin.

Simbarjaya sadar, maut tengah mengintainya. Sambil berloncatan menghindari tusukan tombak, sabetan pedang dan keris yang datang bertubi-tubi, hatinya pun bertanya, “Kenapa Paniwen tak juga muncul untuk membantuku?”

Karena konsentrasinya terpecah, akhirnya, tombak itupun sempat menusuk dadanya. Simbarjaya menunduk. Walau kulitnya tidak tergores, tetapi, dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Ternyata ia terluka dalam! Merasa keadaannya sudah amat terdesak, Simbarjaya pun meloloskan kerisnya. Dan apa yang terjadi? Keris berluk sembilan dan berkhodam Mas Paniwen pun memperlihatkan keunggulannya. Seketika, kesepuluh orang itu lumpuh tak berdaya. Setelah mengingatkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu amat keji dan tidak manusiawi, Simbarjaya pun kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, dengan kesal, ia melemparkan kerisnya ke atas hingga menjebol langit-langit rumahnya. Seminggu setelah itu, kesepuluh orang itu mati dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuh lumpuh dan kulit mengelupas bagai disiram oleh air panas.

Waktu terus berlalu. Pada purnama yang ketiga, seperti biasa, rumah Simbarjaya kedatangan seorang pedagang dari daerah Banten. Di dalam suatu perbincangan, akhirnya, pedagang yang gemar mengoleksi berbagai barang-barang bertuah itu meminta Simbarjaya untuk memaharkan keris Mas Paniwen dengan dagangan yang kala itu dibawanya. Simbarjaya menolaknya. Ia ikhlas melepaskan keris Mas Paniwen kepada si pedagang. Tetapi si pedagang tetap saja ngotot untuk memaharkannya. Akhirnya timbul kesepakatan, uang pembayaran dagangan sebesar 15 ringgit diserahkan kepada Simbarjaya sebagai mahar. Simbarjaya pun menerima sambil menyerahkan kerisnya. Dan ketika menyimpan uang mahar, di dalam hati Simbarjaya pun berjanji, “Suatu saat nanti, mahar ini akan ku kembalikan kepadanya.”

Dengan hati gembira si pedagang itu mohon diri untuk kembali ke rumahnya. Tiga hari setibanya di rumah, tanpa sebab yang jelas si pedagang pun meninggal dunia. Kemudian, tiap tiga hari, istri, ketiga anak dan dua pembantu bahkan hewan peliharaannya pun berturut-turut menyusul ke alam baka. Akhirnya, keris itu pun berpindah tangan. Anehnya, tiap keluarga yang menyimpan keris itu pasti mengalami nasib yang sama dengan keluarga si pedagang.

Hingga akhirnya, keangkeran keris Mas Paniwen terdengar ke telinga Regent yang berkuasa kala itu. Ia langsung memerintahkan beberapa orang tua yang pilih tanding untuk mengetahui penyebabnya. Dan setelah melalui tapa brata yang lumayan berat, akhirnya, salah seorang dari mereka mendengar bisikan gaib, “Kembalikan aku ke Simbarjaya yang tinggal di Klapa Nunggal. Jika tidak, semua akan ku habisi!”

Singkat cerita, Regent langsung mengutus lima orang jawara untuk mencari nama dan alamat yang dimaksud. Purnama pun terus berganti, akhirnya, kelima jawara pun berhasil menemukan kediaman Simbarjaya. Dengan senang hati Simbarjaya menerima mereka dan sekaligus keris Mas paniwen yang dibawanya. Tak Iupa, Simbarjaya juga memberi hadiah kepada masing-masing jawara sebesar 10 ringgit, seraya menitipkan 15 ringgit uang mahar milik si pedagang kepada mereka.

Dan sejak itu, pemerintah kerajaan Belanda yang sedang berjaya kala itu memberikan kewenangan kepada keturunan Simbarjaya untuk mengelola daerah itu.

Khususnya goa Gajah. Dan kewenangan itu dituangkan dalam sebuah traktat berstempel dan sebilah pedang. Adapun isi traktat tersebut adalah, (1) 7 turunan Simbarjaya berhak mengelola daerah itu (2) Mereka dibebaskan dari pembayaran upeti (3) 10% dari yang dihasilkan oleh goa Gajah, yang berupa sarang burung walet dipakai untuk dana sosial dan pembangunan kampung dan sekitarnya.

Hanya itu yang disampaikan oleh Mas Paniwen kepada tim paranornal-indonesia.com. Ternyata Mas Paniwen ingin membuktikan kepada keluarga tuannya, bahwa ia masih setia menjaga tempat yang dipercayakan kepadanya. ®️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here