Surat Penggetar Hati Harun Al Rasyid

0
108

SURAT PENGGETAR HATI HARUN AL RASYID

Ketika Harun Al Rasyid diangkat menjadi khalifah, para ulama pun berdatangan untuk mengucapkan selamat. Kemudian khalifah baru itu membuka kunci kas negara dan membagi-bagikan banyak harta kepada mereka.

Berbeda dengan sikap kebanyakan ulama sahabatnya, setelah Harun memangku jabatan, khalifah Sufyan pun mulai menjauh. Bahkan ia juga tidak datang untuk mengucapkan selamat. Sampai sekian lama khalifah merindukan kehadiran Sufyan, tapi apa daya, yang ditunggu tak jua datang. Karena tak tahan menahan kerinduan, akhirnya, Harun pun mengirimkan surat yang intinya adalah sebagai berikut; “Wahai saudaraku! Engkau mengetahui bahwa Allah SWT telah mempersaudarakan di antara orang-orang mukmin dan dijadikan Allah yang demikian itu pada jalan-Nya. Ketahuilah, aku telah mempersaudarakan engkau, yaitu persaudaraan yang tidak akan aku putuskan talinya dan tidak pula aku potong kesayangan itu dengan dirimu. Jika saja kalung ini tidak di kalungkan oleh Allah pada diriku, maka, aku akan datangi tempat engkau meskipun dengan merangkak. ltulah bukti kecintaanku kepadamu.

Ketahuilah wahai Abu Abdillah (Sufyan Tsauri), tiada tinggal seorang pun dari temanku dan teman-temanmu, mereka telah berkunjung dan mengucapkan selamat kepadaku. Lalu aku buka baitul mal dan ku berikan hadiah-hadiah yang banyak kepada mereka. ltu semua karena amat menggembirakan dan menyedapkan mataku. Sebenarnya aku sangat ingin berjumpa denganmu, namun engkau tak jua datang.

Wahai Abu Abdillah! Engkau telah mengetahui apa yang tersebut pada agama, yaitu tentang keutamaan orang mukmin dalam hal kunjungan dan hubungan satu sama lain. Karena itu bila suratku ini sudah sampai, bersegeralah kemari! Bersegeralah kemari!”

Ketika surat khalifah telah diterima dan dibaca Sufyan, dia pun berkata kepada sahabatnya. “Bahkkan kertas itu, dan sebagai balasan tulislah kata-kataku pada bagian belakangnya.”

Mendengar ucapan Sufyan, sang sahabat pun berkata, “Hai Sufyan! Dia adalah seorang khalifah. Bagaimana jika engkau menuliskan surat balasan itu pada selembar kertas putih?” Dengan tegas Sufyan pun menjawab, “Menuliskan jawaban pada orang dhalim, cukup di belakang suratnya saja.”

Sang sahabat akhirnya menuliskan kata-kata yang didiktekan oleh Sufyan pada bagian belakang kertas surat khalifah Harun Al Rasyid. Ada pun inti dari isi surat itu adalah;

“Melalui surat ini ku beritahukan bahwa aku telah memutuskan tali hubungan denganmu, dan telah pula memotong kecintaan engkau. Kedudukanmu (jabatan kekhalifahan) telah membuatku marah.

Hai Harun! Diriku telah ku jadikan saksi buat pengakuan atas engkau melalui suratmu, tentang perbuatan yang telah kau lakukan terhadap baitul mal kaum muslimin. Engkau telah membelanjakannya bukan kepada yang berhak, aku dan teman-teman semua turut menyaksikan pembacaan surat itu, dan besok, kami akan melakukan kesaksian atas dirimu itu di hadapan Allah SWT.

Hai, Harun Al Rasyid! Engkau telah menjarah baitul mal kaum muslimin, tanpa mendapat kerelaan hati mereka. Apakah semua para pendukung Al Qur’an, para alim, perempuan janda dan anak-anak yatim rela dengan tindakanmu yang sedemikian? Apakah rakyat banyak juga rela dengan apa yang telah kau lakukan? Maka, ikatlah sarungmu wahai Harun Al Rasyid! KetahuiIah, bahwa engkau akan berdiri di hadapan Hakim Yang Maha Adil. Dan sebenarnya engkau telah mendatangkan bahaya untuk dirimu sendiri, karena engkau telah mencabut kemanisan ilmu, zuhud dan kelezatan Al Qur’an serta meninggalkan orang-orang yang pernah menjadi pilihanmu sendiri. Kini engkau telah merelakan dirimu menjadi orang dhalim dan bahkan menjadi imam dari mereka.

Wahai Harun Al Rasyid! Engkau telah duduk di kursi kebesaran dan memakai kain sutra. Engkau tutup dirimu dengan tabir pada pintumu. Kemudian segenap tentaramu yang dhalim itu engkau tempatkan pada pintu dan manusia, sedang mereka tak pernah menyadari akan hal itu.

Lalu, bagaimanakah keadaanmu besok pada hari kiamat hai Harun Al Rasyid? Saat Itu, engkau akan datang menghadap Allah dengan kedua tangan dan lehermu yang dirantan. Dan tidak ada yang bisa melepaskannya kecuali dengan keadilan dan kesadaranmu. Sedang orang-orang yang dhalim Itu berada di sekelilingmu dan engkaulah yang mendahuluinya.

Wahai Harun! Engkau seolah telah masuk ke dalam kesempitan, pencekik Ieher akibat dari perbuatanmu. Dan sebagai tambahan dari kejahatanmu atau bahaya di atas bahaya dan kegelapan di atas kegelapan, adalah akibat engkau telah melihat kebaikan dirimu dengan ukuran orang lain dan kejahatan orang lain dengan timbanganmu. Maka, jagalah wasiatku dan ambillah pelajaran dari pengajaran yang selama ini telah kuberikan. Wahai Harun AI Raysid! Takutlah engkau kepada Allah, tentang rakyatmu, peliharalah umat Muhammad SAW serta perbaikilah kepemimpinan dan pemerintahan di atas mereka.

Ketahuilah, jika pekerjaan ini dilakukan oleh orang Iain, maka, hal itu tidak akan pernah sampai kepadamu. Bahkan orang itulah yang akan menerimanya. Demikian juga dengan dunia yang berputar dan satu demi satu penduduk yang ada di dalamnya. Ada di antara mereka yang mencari bekal yang bermanfaat bagi dirinya, tetapi, ada pula yang mengalami kerugian baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Wahai Harun AI Rasyid! Aku menilai engkau termasuk orang yang merugi di dunia dan akhirat. Maka, jagalah dirimu dan jangan sampai menulis surat lagi kepadaku sesudah ini, karena aku tidak akan menjawab suratmu itu.”

Kemudian Sufyan menyerahkan surat itu kepada sahabatnya untuk disampaikan kepada khalifah Harun Al Rayid. Tidak dilipat dan tidak distempel!

Ketika khalifah membaca surat itu, air matanya pun langsung bercucuran. Sebagian orang yang pada waktu itu duduk bersamanya sempat berkata, “Wahai Amirul Mukminin, begitu berani sekali Sufyan Tsauri terhadap dirimu! Jika engkau berhadapan dengannya, tindihlah dengan besi berat dan masukkan ke dalam penjara yang sempit. Dengan cara ini berarti engkau telah membuat contoh bagi yang lain.”

Dengan serta merta Khalifah Harun Al Rasyid pun berkata, “Tinggalkan aku wahai budak-budak dunia yang telah tertipu oleh orang-orang yang engkau tipu. Sesungguhnya Sufyan Tsauri adalah satu-satunya umat dan tiada seorangpun yang menyerupai sifatnya. Biarkan dia dengan keadaannya yang demikian.”

Menurut riwayat, surat Sufyan Tsauri itu senantiasa berada di sisi Harun Al Rasyid. Dia selalu membacanya pada tiap saat sampai menjelang wafatnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya. Amin. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here