Sumur Keramat Buyut Bejagung Tuban

0
88

SUMUR KERAMAT BUYUT BEJAGUNG TUBAN

Nama Bejagung memang tak asing bagi telinga masyarakat Tuban. Karena yang dimaksud pastilah makam keramat Sunan Bejagung yang terdapat di Desa Bejagung Lor, Tuban, Jawa Timur.

Sebenarnya ada dua tempat keramat di Bejagung. Di Desa Bejagung Kidul terdapat makam Pangeran Pangkah, sementara di Bejagung Lor terdapat makam Modin Ashari. Hanya saja, karena di Bejagung Lor terdapat sumur yang kekeramatannya sudah teruji, maka, makam di Bejagung Lor yang lebih dikenal, Sehingga jika kita bertanya tentang Sunan Bejagung, maka jangan heran jika orang akan menunjuk ke Bejagung Lor. Padahal Ietak makam Pangeran Pangkah hanya terpisah beberapa ratus meter dari makam Modin Ashari.

Begitu berhenti dan turun di pinggirari jalan masuk ke komplek makam Sunan Bejagung, aroma khas sebuah makam keramat pun langsung terasakan. Betapa tidak, harumnya bunga-bunga yang dijajakan oleh penduduk setempat akan dengan cepat merasuk ke kalbu lewat rongga hidung. Begitu juga orang-orang tua yang tampak lusuh, saling menadahkan tangan untuk meminta belas kasihan kepada setiap pengunjung makam. Melihat keadaan itu, biasanya, para peziarah akan segera merogoh uang recehan untuk memberi sedekah fakir miskin yang ada di komplek makam Bejagung.

Selain itu ada beberapa hal yang sangat mencolok dan aneh untuk diamati. Maklum, bulan kemarin adalah saat mula pertama paranormal-indonesia.com menginjakkan kaki di tempat yang diyakini memiliki kekeramatan tinggi karena sebagai tempat bersemayamnya seorang Waliyullah. Satu hal yang kami anggap aneh adalah banyaknya orang berjajar rapih sambil menenteng timba-timba di tangannya. Kebetulan, saat itu, daerah yang satu ini masih belum diguyur hujan. Dan mereka antri untuk mendapatkan setimba air dari sebuah sumur. Tapi bukan karena mereka mengalami krisis air pengantri yang kebanyakan wanita itu ternyata berjajar untuk mendapatkan air dari sumur keramat peninggalan Sunan Bejagung. Dan hebatnya Iagi, kebanyakan yang datang ke tempat ini bukan hanya dari daerah Tuban saja. Sebab ada di antara mereka yang mengaku berasal dari Kabupaten Blora, Bojonegoro, Demak, Surabaya dan beberapa daerah lain. Dan kedatangannya hanya dengan satu maksud, untuk mendapatkan air yang konon dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Selain itu, pemandangan aneh juga tampak pada bangunan sumur tersebut. Tidak seperti pada umumnya, sumur yang satu ini menggunakan alat yang lebih unki. Untuk menaikkan air ke permukaan, ada dua orang petugas yang memutar alat raksasa berupa kayu panggulung tali yang panjangnya sedalam sumur Buyut Bejagung, 26 meter. Meskipun alat unik ini sudah beberapa kali diperbaiki, namun alat tradisional itu jelas telah berumur puluhan tahun. Bahkan menurut salah seorang petugas penimba air, kayu berbentuk persegi yang melindungi mulut sumur konon masih asli peninggalan Sunan Bejagung.

“Dulu ada orang keturunan Cina yang datang ke tempat ini. Dan setelah dua kali mandi dengan air sumur Buyut Bejagung penyakitnya sembuh total,” ungkap seorang wanita paruh baya, penjual botol bekas mineral di tempat ini.

Wanita yang juga memiliki usaha menyewakan timba itu juga menambahkan, “Sejak mengidap penyakit aneh banyak dokter yang didatangi, tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Bahkan orang itu mengaku kepada saya-sudah menghabiskan uang puluhan juta. Dan setelah mendengar cerita orang, ia pun datang untuk mandi di sini. Dan ternyata, penyakit orang itu sembuh sama sekali. Sejak itu, ia amat percaya dengan khasiat air sumur peninggalan Buyut Bejagung.”

Mbah Warni, seorang nenek asal Semanding, Tuban, juga meyakini bahwa air tersebut bukanlah sembarang air. Oleh karena itu, ia sengaja datang ke tempat itu untuk memandikan cucunya yang masih berusia sekitar 4 tahun. “Putu kulo gerah, bakdo kecelakaan (cucu saya sakit sehabis kecelakaan),” jelas perempuan setengah baya itu sambil memandikan cucu Iaki-Iakinya.

Menurut cerita Mbah Warni, pada Idul Fitri tahun lalu, cucunya ditabrak motor hingga masuk rumah sakit. Karena sekarang sudah sembuh, maka, anak kecil itu sengaja diajak ke Sumur Buyut Bejagung. Tujuannya untuk dimandikan agar kesehatannya dapat segera pulih seperti sediakala.

Karena begitu banyak orang yang percaya akan khasiat air sumur ini, maka tidak usah heran jika tiap malam Jum’at, beberapa kamar mandi yang dibangun permanen di tempat itu dijejali pengunjung untuk mandi. Selain dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit kulit, air dari sumur yang memiliki kedalaman 26 meter ini juga dipercaya mampu membuat tubuh atau wajah menjadi awet muda, menyegarkan pikiran dan beberapa kegunaan lainnya.

Dan merupakan hal yang wajar, selain mandi, peziarah yang datang juga menyempatkan diri untuk membawa pulang air keramat itu.

Menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, sumur Buyut Bejagung adalah sumur kramat peninggalan salah seorang waliyullah. Walau tak jelas silsilahnya, tetapi masyarakat tetap beranggapan jika Sunan Bejagung adalah seorang tokoh kenamaan yang hidup pada masa zaman Wali Sembilan.

“Cuma beliau bukan salah satunya,” jelas Karmani, juru kunci makam Sunan Bejagung. Menurutnya, tempat yang paling ramai dikunjungi orang pada hari Jum’at Wage, adalah makam seorang ulama yang usianya Iebih tua dari Sunan Bonang. Selain itu, beliau juga memiliki kesaktian yang tiada tara. Betapa tidak, di samping sebagai ulama yang melakukan syiar Islam di selatan kota Tuban, Modin Ashari juga bertindak sebagai petugas yang menyalakan Iampu di Masjidil Haram, Mekkah. Tiap petang, betiau pergi ke Masjidil Haram untuk menyalakan lampu dan kembali ke Tuban setelah pekerjaan itu dilaksanakannya. Dan pekerjaan itu, dilakukan tiap hari sampai akhir hayatnya. Yang paling aneh, walau jarak yang terbentang antara Masjidil Haram dengan Tuban sulit untuk dibayangkan, tetapi, beliau mampu mengerjakan hal itu dalam hitungan jam. Agaknya, kelebihan inilah yang membuat Wali Songo amat menghormati keberadaan beliau.

Dan selain meninggalkan banyak santri yang tersebar di seantero penjuru kota Tuban, Modin Ashari juga meninggalkan beberapa bangunan yang sampai sekarang masih terawat dan terlestarikan dengan baik. Di antaranya adalah sebuah sumur dan masjid. Dan sebagai tanda bakti kepada para pendahulu yang telah berjasa besar di dalam melakukan syiar Islam, tak heran, jika sampai sekarang makam Modin Ashari, istri dan anaknya masih terawat dengan apik. Bahkan, pada saat-saat tertentu makamnya juga ramai dikunjungi orang untuk berziarah dan bertawasul. Maksudnya, selain berdo’a, para peziarah juga dapat mengambil hikmah dari apa yang pernah dilakukan oleh almarhum semasa hidupnya. Berjuang tanpa pamrih untuk kejayaan Islam. Semoga. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here