Ngaji Bareng Kyai Pamungkas: Hakikat Setan

0
91

Ngaji Bareng Kyai Pamungkas:
HAKIKAT SETAN

Nabi Muhammad SAW bersabda: Jika kamu banyak mengingat Allah, maka setan itu akan mengecil sekecil lalat. Sebaliknya, jika kamu lalai dalam mengingat Allah, setan akan menjadi perkasa dan berkuasa atas diri kita (HR. Ahmad).

Setan digambarkan sebagai makhluk menyeramkan dan menghuni tempat angker. Gambaran ini tidak sepenuhnya benar. Setan yang sering digambarkan sebagai makhluk menyeramkan adalah jin kafir pengikut iblis. Tujuan mereka sudah jelas yaitu menggoda, menggelincirkan dan menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan. Sehingga bersama-sama mereka menjadi penghuni neraka.

Tetapi pengertian setan sebenarnya tidak hanya sebatas itu, karena setan sesungguhnya sebuah sifat atau karakter yang berarti segala sesuatu yang dapat menjauhkan dan melalaikan manusia dari ketaatan dan kebenaran, serta mendorong untuk melakukan maksiat dan kejahatan. Jadi apabila ada yang memiliki karakter dan sifat seperti itu, baik dari bangsa jin maupun manusia, maka ia adalah setan.

Jadi wujud setan tidak harus menyeramkan dan tidak harus berupa makhluk halus. Dia bisa berwujud seperti seorang pejabat, pengusaha, anak, isteri, suami, saudara atau siapa saja. Bila kita pernah mendengar orangtua memaki anaknya, “Dasar anak setan!” bukan berarti anaknya setan tetapi anak itu berkarakter seperti setan.

Sedangkan manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia telah ditetapkan oleh Tuhan sebagai makhluk yang paling mulia dibanding dengan malaikat dan jin. Manusia dilengkapi dengan akal dan nafsu yang keduanya dapat saIing mengisi, sehingga kehidupan manusia menjadi sangat dinamis. Tidaklah mengherankan bila manusia kemudian ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi. ltulah sebabnya, malaikat dan jin (dalam hal ini iblis) disuruh sujud oleh Tuhan sebagai tanda penghora matan kepada manusia.

Masalahnya, mengapa kita takut kepada setan? Setidaknya ada tiga sebab manusia takut kepada setan:

Pertama, ditanamkannya pemahaman yang keliru tentang setan. Bahwa setan itu menakutkan, kuat dan tidak mungkin dikalahkan. Menakuti anak-anak yang bandel dengan sosok setan adalah hal yang sering dilakukan para orang tua terhadap anak-anaknya agar mereka menghentikan kebandelannya.

Cara seperti itu walaupun efektif tetapi sangat tidak mendidik, karena nantinya secara tidak langsung orang tua telah berperan menggelincirkan akidah anaknya. Rasa takut terhadap setan akan terus tertanam sampai ia dewasa. Akibatnya bukan tidak mungkin nantinya akan Iebih takut kepada setan daripada takut kepada Tuhan. Padahal Tuhan pula yang menciptakan setan.

Kedua, beredarnya mitos, cerita rakyat dan legenda yang melibatkan makhluk halus, dari yang baik sampai jahat. Makhluk halus yang baik digambarkan sebagai dewa, sedang yang jahat digambarkan sebagai setan yang selalu berbuat jahat.

Setan-setan ini tidak dapat dikalahkan manusia kecuali dengan bantuan para dewa. Pemahaman seperti inilah yang kemudian menumbuhkan tahayul di masyarakat.

Ketiga, kita terbiasa melihat yang seram dan mengerikan. Terkadang manusia mempunyai imajinasi berlebihan tentang wujud setan. Karena bangsa jin dikarunia Tuhan dapat berubah wujud, tidaklah sulit bagi mereka untuk menampakkan wujud dalam bentuk apapun.

Mereka melakukan penampakkan sesuai dengan interpretasi manusia mengenai wujud setan. Misalnya, karena banyak diputar film horor atau misteri seperti Dendam Nyi Pelet dan Misteri Gunung Merapi, maka mereka akan muncul dengan wujud Nyi Pelet seperti yang digambarkan film itu. Bisa juga wulud Nenek Lampir dan Grandong seperti dalam film Misteri Gunung Merapi.

Wujud seperti itu muncul karena dalam pikiran manusia sendiri sudah tertanam bahwa memang seperti itulah wujud setan. Singkatnya, mereka akan muncul sesuai dengan imajinasi kita.

Jadi setan itu lebih kepada sebuah sifat daripada perwujudannya. Buktinya, gambaran orang tentang wujud setan baik dalam film, cerita rakyat, legenda maupun mitos di tiap daerah dan bahkan di tiap negara berbeda-beda. Setan di pulau Jawa berbeda dengan setan di pulau Sumatera. Setan di Eropa tidak sama dengan setan di Asia.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia di tiap wilayah mempunyai interpretasi masing-masing mengenai wujud setan. Tetapi bila wujud seram di alam pikiran manusia itu benar-benar ditampakkan dihadapannya, kita jadi ketakutan sendiri. karena memang manusia itu tidak biasa melihat yang seram-seram itu berlangsung di depan matanya. Padahal hasil dari bayangan kita sendiri.

Karena tidak terbiasa dengan yang seram dan imajinasi yang berlebihan itulah, bulu kuduk kita jadi merinding ketika baru mendengar ceritanya saja. Apalagi jika menampakkan diri. Cukup dengan pasang wajah seram sudah bisa membuat manusia Iari tunggang langgang bahkan pingsan. lni persis dengan petarung yang mampu menciutkan nyalit lawannya hanya dengan memasang walah angker dan tatapan mata tajam, sehingga lawannya kalah sebelum bertanding.

Ketakutan yang muncul ketika mendengar kata ‘setan’ atau bahkan melihatnya Iebih disebabkan karena ketidaktahuan manusia tentang siapa setan sesungguhnya. Padahal apabila manusia itu menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhannya, ia tidak akan pernah takut setan.

Ia akan selalu memuji kebesaran Tuhan ketika melihat fenomena-fenomena aneh diluar jangkauan manusia, walaupun fenomena-fenomena aneh itu dibuat oleh setan yang bertujuan untuk menggelincirkan iman manusia.

Untuk menghadapi setan harus dengan iman, selalu berlindung kepada Allah dan memperbanyak zikir. Seperti yang disebutkan dalam hadits pada awal tulisan ini, bahwa setan akan mengecil seperti Ialat bila kita sering mengingat Allah. Artinya setan tidak berdaya sama sekali bila kita mempunyai iman yang teguh, mempunyai komitmen kuat dalam menjalankan agama.

Di antara para pembaca kalau ditanya pernah melihat setan atau tidak, pasti ada yang menjawab pernah dan ada yang menjawab belum. Bukannya bermaksud menggurui, tetapi pernahkah kita mengevaluasi diri kita sendiri. Ketika kita melihat penampakkan seperti genderuwo, kuntilanak, kemudian kita ketakutan setengah mati, pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah saya ini sudah mendekatkan diri kepada Tuhan?

Kalau jawabannya sudah, patut menjadi pertanyaan mengapa kita jadi begitu takut kepada setan. Kalau jawabannya belum, sudah seharusnya kita mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalau sudah dekat dengan Tuhan, kita akan selalu yakin Tuhan bersama kita apapun yang terjadi dan kita tidak perlu takut kepada setan karena setan makhluk Tuhan juga.

Kalau kita sudah punya keyakinan seperti ini, Tuhan akan menjadikan setiap makhluk takut kepada kita. Setan akan lari tunggang langgang begitu melihat kita

seperti setan tunggang Ianggang ketika, melihat Umar bin Khattab ra. Sebaliknya, setan akan menjadi berani dan bahkan akan mengganggu, bila kita jauh dari Tuhan. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here