MENGUNGKAP PETILASAN DUKUN SAKTI ZAMAN MAJAPAHIT

0
15

MENGUNGKAP PETILASAN DUKUN SAKTI ZAMAN MAJAPAHIT

NYI LAMBANGSARI ADALAH SEORANG DUKUN SAKTI DI ZAMAN MAJAPAHIT. PETILASANNYA KINI MENJADI AJANG RITUAL PARA DUKUN.KONON, MEREKA DAPAT BERGURU KEPADA GAIB DUKUN SAKTI INI. SEPERTI APAKAH KISAHNYA…?

ISTILAH dukun sudah terkenal sejak zaman Hindu dan Budha. Termasuk para dukun serta tabib yang bertugas khusus mendampingi raja. Salah satu dukun yang paling terkenal sebagai pendamping raja Majapahit di zamannya adalah Nyi Ageng Lambangsari. Petilasan sang dukun kini terkenal dengan nama Lambang Kuning. Tempat ini banyak didatangi oleh kalangan paranormal untuk berguru secara gaib kepada, sosok Nyi Ageng Lambangsari yang konon muksa di tempat ini. Ada misteri apa di tempat ini. JELAJAH berikut menuturkannya dengan lengkap…:

Pada zaman kerajaan dukun dan tabib mempunyai peranan yang cukup vital. Bahkan pada zaman kerajaan Hindu atau Budha, mulai dari zaman Mataram Hindu hingga Majapahit, tak sedikit para raja yang lebih memperhatikan nasihat dari para dukunnya ketimbang
sifat resminya. Semua itu semata-mata karena dukun pada zaman dulu, betul-betul mempunyai kemampuan supranatural serta spiritual yang mumpuni.

Pada zaman kerajaan Majapahit akhir, Nyi Ageng Lambangsari merupakan satu-satunya dukun yang paling terkenal. Tempat dia pernah tinggal untuk yang terakhir kalinya berada di Madiun, Jawa Timur. Lambang Kuning, demikianlah nama tempat yang pernah digunakan sebagai padepokan dukun sakti dari Majapahit itu. Secara administratif, petilasan Lambang Kuning masuk wilayah Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Ada beberapa bagian penting yang berada di dalam komplek petilasan Lambang Kuning. Pertama, ada Sanggar Pemelengan. Kedua, Tempat Ritual Penghaturan Sesaji. Keduanya sangat disakralkan. Pasalnya, di Sanggar Pamelengan, konon merupakan tempat ritual Nyi Lambangsari. Namun, kini sudah dibuatkan semacam tempat padmasana seperti tempat ritual keagamaan umat Hindu.

Sedangkan Tempat Ritual, konon merupakan tempat muksanya Nyi Lambangsari saat melakukan tapa brata. Sementara bagian lainya yakni, Lumbung Slayur. Di tempat inilah, menurut juru kunci petilasan Lambang Kuning Sudarto, 52 tahun, merupakan wahana penyimpanan berbagai macam pusaka milik Nyi Lambangsari. Namun dengan alasan demi menjaga keamanan, tempat ini disamarkan untuk tempat penyimpanan logistik. Karena itulah kemudian lebih akrab disebut Lumbung Slayur. Bagian lain yang tak kalah penting adalah tempat penyimpanan berbagai macam alat-alat dapur yang semuanya terbuat dari batu andesit.

Untuk menjaga kelestariannya, kini tempat di mana dukun sakti dari Majapahit itu pernah tinggal sekaligus muksa, masuk dalam perlindungan Dinas Suaka Purbakala Mojokerto, Jatim.

Pada perkembangan berikutnya, di mana Nyi Lambang pernah tinggal, kini banyak didatangi oleh paranormal atau dukun dengan maksud ingin berguru secara gaib kepada sosok Nyi Lambangsari. Terutama pada malam Jum’at Legi, kawasan keramat ini menjadi cukup ramai. Bahkan menurut juru kunci yang juga kepala desa di mana petilasan Lambang Kuning berada, pada malam keramat seperti itu, yang datang ke petilasan ini tak hanya kalangan paranormal dari Madiun saja. Tak sedikit dari mereka yang datang dari luar Madiun, seperti Mojokerto, Blitar dan Tulungagung.

Masih menurut Sudarto, selain banyak didatangi oleh kalangan paranormal atau dukun, petilasan Lambang Kuning juga banyak didatangi oleh para pejabat yang bermasalah. Entah itu masalah ringan seperti halnya lambannya kenaikan pangkat dan jabatan, sampai masalah berat seperti kasus korupsi.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Sudarto kepada Paranormal-Indonesia.com Beberapa waktu yang lalu, ada seorang perwira polisi berpangkat kolonel yang datang ke petilasan ini. Kepada Sudarto selaku juru kunci, perwira ini mengaku pangkatnya macet hampir delapan tahun lamanya. Namun setelah melakukan ritual di petilasan Lambang Kuning, tak lama setelah itu, pangkatnya naik menjadi bintang satu (Brigadir Jendral).

“kalau dukun yang tinggal di wilayah Madiun dan sekitarnya apalagi mengetahui tentang keberadaan petilasan ini, rasanya kurang afdol kalau mereka belum melakukan ritual di tempat ini.Namun tak hanya dukun saja yang melakukan ritual Banyak pejabat bermasalah yang melakukan ritual di sini.Kalau tujuannya, kan sudah bisa ditebak. Seperti yang saya ceritakan tadi,” terang Sudarto sambil menunjukkan buku tamu.

Sementara itu, untuk menghormati sosok Nyi Lambangsari serta untuk menguri-uri petilasannya, setiap satu tahun sekali di bulan Syuro, di tempat Ini selalu diadakan acara ritual besar-besar selama tujuh hari tujuh malam.

Pada acara itu, biasanya dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan paranormal atau dukun yang datang dari berbagai daerah di sekitar Madiun. Termasuk kalangan spiritualis. Pada umumnya, paranormal yang menghadiri acara tersebut, rata-rata mereka pernah datang ke petilasan Lambang Kuning atau pernah berguru secara gaib kepada Nyi Lambangsari.

Selain kalangan paranormal serta pejabat, ternyata tak sedikit para spiritualis yang datang ke petilasan Lambang Kuning di luar hari ritual akbar. Kalangan yang dikenal suka lelaku ini, menurut Sudarto, tujuannya untuk mengambil berbagai macam pusaka zaman Majapahit yang tersimpan di Lumbung Slayur. Karena menurutnya, selain pusaka milik pribadi Nyi Lambangsari, di Lumbung Slayur juga tersimpan berbagai macam pusaka milik raja Majapahit. Terutama milik Prabu Brawijaya bingga V.

“Banyak yang berhasil mengambil pusaka dan Lumbung Slayur Namun rata-rata, yang bisa mereka ambil dengan kekuatan gaib itu, berupa keris dan tombak Sedangkan mirah Gelima serta kul buntet yang disebut-sebut juga ada di sini, belum seorang pun ada yang berhasil mendapatkannyaā€¯, ujar Sudarto.

Lalu, siapa sebenarnya Nyi Lambangsari yang disebut-sebut sebagai tokoh sakti dan merupakan tabib atau paranormal istana Majapahit itu?

Sebagaimana penuturan Sudarto kepada Paranormal-Indonesia.com untuk mengetahui siapa sebenarnya Nyi Lambangsari, harus membuka lembaran sejarah kerajaan Majapahit ketika Damarwulan naik tahta dengan gelar Prabu Brawijaya I.

Disebutkan, setelah raja Hayam wuruk tak lagi memerintah Majapahit, di kerajaan yang pernah mempersatukan Nusantara di zaman Patih Gajah Mada ini, ada seorang raja puteri yang memerintah, yakni Diah Ayu Kencanawungu.

Pada zamannya, banyak daerah yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh serta kekuasaan Majapahit. Satu di antaranya adalah Kabupaten Blambangan yang saat itu dipimpin oleh Adipati Hurubisma. Harubisma yang lebih dikenal pula dengan nama Minak Jinggo, bahkan tak hanya berambisi lepas dari Majapahit, namun dirinya juga menginginkan seluruh wilayah Majapahit dan menjadi raja. Dan yang sangat kontroversial, Minak Jinggo yang terkenal buruk rupa itu juga menginginkan Kencanawungu menjadi permaisurinya.

Hal inilah yang membuat murka Ratu Kencanawungu. Atas sikap Minak Jinggo yang telah dianggap melecehkan kewibawaan Majapahit, kemudian Kencanawungu mengirimkan pasukan untuk menghancurkan Blambangan. Sayangnya, tak mudah mengalahkan Minak Jinggo yang mempunyai dua pusaka andalan berupa gada besi kuning dan pedang Sukoyono.

Jangankan senopati biasa, Bupati Lumajang, Minak Kencar yang terkenal sakti, kalah melawan Minak Jinggo. Termasuk Patih Majapahit, yakni Rekiana Patih Logender. Karena itu, untuk mengatasi kemelut Majapahit ini, kemudian Ratu Kencanawungu melakukan semedi Muhung Mahase Asepi di Sanggar Pamelengan keraton guna meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi Wasa.

Dari sini, kemudian Ratu Kencanawungu mendapatkan petunjuk jika yang mampu mengalahkan Minak Jinggo, hanya seorang pemuda yang bernama Damarwulan dari Pertapaaan Paluh Ombo yang berada di Gunung Wilis (Kediri).

Atas dasar wangsit dari Sang Hyang Widi Wasa ini, kemudian Ratu Kencanawungu memerintahkan Patih Logender untuk mencari Damarwulan. Padahal saat itu, Damarwulan telah menjadi menantu Patih Logender karena telah menjadi suami dari Anjasmara yang juga puteri bungsu Patih Logender.

Damarwulan segera dijemput untuk menghadap Ratu Kencanawungu. Setelah menghadap, saat itu juga, Damarwulan langsung diwisuda sebagai Senopati perang Majapahit untuk melawan Blambangan.

Selain menjanjikan hadiah ganda kepada Darmawulan, yakni jika menang melawan Minak Jinggo, maka pemuda dari pertapaan Paluh Ombo in akan mendapat hadiah Ratu Kencanawungu sendiri serta bisa menjadi Raja di Majapahit, namun jika kalah dan kembali,maka Damarwula akan diberi hukuman mati.

Atas dukungan dari Minak Koncar,Damarwulan langsung berangkat ke Blambangan. Sesampainya di Blambangan Damarwulan langsung menantang Minak Jinggo.Dan ternyata, Damarwulan memang bukan tandingan dari Minak Jinggo. Sekali pusaka gada besi kuning dipukulkan, Damarwulan langsung pingsan.

Beruntung, saat itu Damarwulan mendapat pertolongan dari kedua isteri Minak Jinggo, yakni Wahita dan Puyengan. Kedua isteri Minak Jinggo ini mau menolong Damarwulan, karena keduanya memang tidak suka terhadap Minak Jinggo. Apalagi Damarwulan memang berwajah, tampan.

Namun, walau mau menolong Damarwulan ada satu syarat yang diajukan oleh keduanya, yakni jika Damarwulan maju perang lagi dan menang, maka keduanya harus diambil isteri oleh Damarwulan.

Karena Damarwulan menyanggupi syarat itu, kemudian pada suatu malam saat Minak Jinggo tidur, kedua pusaka andalannya dicuri oleh Wahita dan Puyengan serta diberikan kepada Damarwulan.

Dengan berbekal kedua pusaka milik Minak Jinggo, Damarwulan kembali menantangnya. Karena sudah tidak mempunyai pusaka lagi, akhirnya Minak Jinggo tewas ditangan Damarwulan.

Sekembalinya ke Majapahit, Damarwulan yang membawa serta Wahita dan Puyengan sebagai puteri boyongan, langsung diwisuda menjadi Raja di Majapahit dengan gelar Prabu Brawijaya I.

Tak hanya itu saja yang diperoleh oleh Damarwulan, Ratu Kencanawungu juga menjati persamaisurinya. Dengan begitu, saat bertahta di Majapahit, Damarwulan langsung memiliki empat orang isteri. Pertama puteri bungsu Patih Logender, kedua Ratu Kencanawungu, serta ketiga dan keempat, Wahita dan Puyengan.

Cerita rakyat yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Jawa Timur ini, lebih dikenal dengan nama Damarwulan Ngarit. Karena memang, ketika menjadi menantu Patih Logender, oleh mertuanya, tiap hari Demarwulan disuruh mencari rumput.

Hal ini dilakukan oleh Patih Logender, lantaran sebenarnya rekian patih ini tidak suka mempunyai menantu Damarwulan. Tapi apa daya, puterinya, Anjasmoro, sangat mencintai Damarwulan. Karena itu, ketika dirinya menjadi raja di Majapahit, Patih Logender pun langsung dicopot dari jabatannya dan digantikan oleh Bupati Lumajang, Minak Kencar. Atas pencopotan dirinya ini, kemudian Patih Logender bersama dua orang puterinya, yakni Layang Seta dan Layang Kumitir, memilih meninggalkan istana karena malu.

Bahkan kemudian, Patih Longender mengumpulkan para perampok untuk membuat kerusuhan di Majapahit. Saat Damarwulan sudah naik tahta inilah, rekan seperguruannya, Lambangsari, turun gunung untuk mencari sahabatnya. Dan alangkah terkejutnya Lambangsari begitu sahabatnya ternyata sudah menjadi raja di Majapahit.

Langsung dirinya menghadap Damarwulan yang telah bergelar Prabu Brawijaya I. Karena kemampuan Lambangsari lebih dominan kepada hal supranatural, oleh Damarwulan sahabatnya kemudian diangkat menjadi kepala tabib istana. Sejak saat itu, Lambangsari yang masih sangat muda, menjadi orang kepercayaan raja Majapahit. Bahkan terkadang, peran Lambangsari tak sebatas sebagai kepala tabib saja, karena nasihat-nasihatnya juga lebih didengar oleh Damarwulan ketimbang penasihat resmi istana.

Begitu juga saat Damarwulan digantikan oleh puteranya, Lambangsari tetap digunakan sebagai kepala tabib istana sekaligus sebagai penasihat. Bahkan hingga raja Majapahit terakhir atau Brawijaya ke V dan merupakan keturunan Damarwulan yang ke IV. Lambangsari yang disebut-sebut mempunyai Aji Pancawarna (Ajian yang membuat orang awet muda dan bisa hidup hingga lima turunan) ini, masih tetap setia mengabdi di Majaphit sebagai kepala tabib istana.

Karena itu, ketika Majapahit di ambang keruntuhan karena serangan dari kerajaan Demak, Lambangsari mempunyai andil besar dalam hal menyelamatkan raja dan juga berbagai macam pusaka milik Prabu Brawijaya I hingga V.

Saat itu, bersama para prajurit pengawal raja, Lambangsari yang terus mendampingi Brawijaya V dan keluarganya, menuju ke arah barat untuk menghindari kejaran pasukan Demak. Namun sesampainya di wilayah Madiun, Lambangsari memilih berhenti untuk menahan lajunya prajurit Demak.

Selain itu, agar perjalanan Prabu Brawijaya V bersama pengawalnya lebih cepat, Lambangsari yang juga mempunyai kesaktian dalam hal bela diri ini meminta kepada sang raja untuk meninggalkan seluruh barang bawaannya.Termasuk semua pusaka yang pernah dimiliki oleh Damarwulan, hingga mereka mencapai tujuannya, gunung Lawu, yang kini menjadi perbatasan antara Jawa Timur dan Tengah. Lambangsari langsung menyembunyikan semua pusaka, termasuk miliknya pribadi, dengan cara menanamnya. Seterusnya, untuk mengecoh prajurit Demak, di atas pusaka yang telah ditanamnya dibangun sebuah lumbung.

Karena itu, begitu dirinya terkepung oleh pasukan Raden Patah dari Demak, mereka tak mampu menemukan sebuah pusaka apapun. Dan karena Lambangsari dianggap sudah tua dan hanya tabib biasa, dia dibiarkan saja oleh prajurit Demak. Padahal tanpa sepengetahuan prajurit Demak, dengan menggunakan cadar, perempuan ini telah berhasil membunuh beberapa prajurit Demak demi menghambat lajunya prajurit musuh yang mengejar Brawijaya V.

Setelah situasi aman dan merasa yakin Prabu Brawijaya V selamat dari kejaran musuh, Lambangsan memilih untuk menetap ditempat yang kini lebih dikenal dengan nama Lambang Kuning. Dan sebagai mantan siswi Pertapaan Paluh Ombo, Gunung Wilis di tempat barunya ini Lambangsari memilih menekuni dunianya sebagai seorang supranatural dan juga spiritualis.

Setiap hari, di tempatnya yang baru, ada saja penduduk sekitar yang meminta pertolongannya. Bahkan disebut-sebut pula, saat itu juga Lambangsari mengangkat beberapa orang murid. Setelah para murid atas perintahnya pergi melalangbuana guna mencari pengalaman, kemudian sahabat karib Damarwulan ini melakukan tapa brata untuk menuju kesempurnaan hidup.

Di tempat itu juga, Lambangsari muksa saat melakukan tapa brata. Tempat di mana Lambangsari muksa inilah, yang kini dijadikan sebagai tempat ritual yang bernama petilasan Lambang Kuning Sementara nama Lambang Kuning, konon diambil dari warna kulit Lambangsari yang memang berkulit kuning.

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here