Kisah Mistis: Mengadopsi Anak Gaib

1
10

Malam Kamis Pon 14 Desember 2002 itu begitu dingin. Temperatur udara menunjuk di angka 10 derajat celcius. Suhu dingin itu terasa sampai menembus tulang. Angin kencang dari arah selatan bertiup rata-rata 45 km per-jam, menambah pekatnya kelembaban malam di Cisarua, Warudoyong, Jawa Barat.

Mengadopsi Anak Gaib

Syahdan, karena malam itu purnama ke 4, maka langit bergelimang cahaya. Biasanya memantul dengan warna kekuning-kuningan di pepohonan sekitar villa. Aku menikmati betul suasana malam itu. Sambil kudengarkan Mas Hen memainkan piano dengan lagu-lagu nostalgia. Suaranya begitu merdu dari lantai bawah tembus ke atas. Ke beranda tempatku bersantai. Sebagai mantan pemusik, Mas Hen sangat pintar menyanyi dan bermain piano. Malam itu Mas Hen membawakan lagu Lionel Richie judul Hallo, ada lagu I Just Call To Say I Love You-nya Stevie Wonder, ada pula lagu pa img kugeman dari kelompok The Bee Gees, | Started The Joke tahun 70-an. “Marni, kau minta lagu apa lagi? Pokoknya malam ini aku akan menyanyi sampai pagi, aku akan menyanyikan lagu apa saja yang kau suka, oke? Lagu apa lagi nih!” teriak Mas Hen dari mikrofon dan scund System minidolby yang ada di lantai bawah, Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Pikirku, repot amat, pokoknya lagu apa saja dibawakan, aku tidak masalah, mensiasati aku diam, Mas Hen terus membawakan lagu apa saja yang dia ketahui kusukai. Baik lagu lama maupun lagu-lagu baru. “Oke Mar, aku persembahkan khusus di satu lagu yang punya nilai kenangan saat kita pertama kali berternu di Sydney. Lagu ini lagu ciptaan Paul Anka, judulnya My Way” kata Mas Hen lagi. Mas Hen pun menyanyikan lagu itu dengan serius. Bahkan benar-benar melambungkan aku pada saat kami pertama kali makan malam di Opera House di restoran Madamme Queen.

Saat itu, Kamis Pon pagi tanggal 17 Juli 1989 kami berkenalan di rumah seorang teman bernama Winarni di Bondi Beach. Sorenya kami berjalan bertiga ke Sentral Hiburan Kingcross. Malam harinya, kami berdua jalan-jalan bertemu dan makan malam di Opera House, sebelumnya nonton teater Hamlet karya Wiliam Shakesptere yang dimainkan anak teater Wilington Drill. Walau baru berkenalan, malam itu juga Mas Hen menyatakan minatnya untuk pacaran denganku. Entah kenapa, malam itu aku langsung menerima dan bersedia di pinangnya. Hari jumat dini hari pukul 2 waktu setempat Mas Hen mengantarkanku sampai apartemen sangrila tempat tinggalku di George Town. Sambil meminum kopi, Mas Hen minta diputarkan CD yang dibawanya lagu syahdu yang dicipta Paul Anka yang dinyanyikan oleh vocalist engelbert Humperdink. “Lagu ini ku tinggal sisi dan tolong diputar bila kau sempat!” pesan Mas Hen, kala itu. Pagi itu lagu itu terasa begitu menyentuh. Mas Hen memeluk dan mencium keningku dengan mesra. Setelah itu, dia melambaikan tangannya turun apartemen mengucapkan kata manis: “See You, Darling!” dengan lembut.

Sebulan kemudian kami menikah. Pernikahan itu berlangsung di Jakarta tanggal 19 Agustus 1989 dengan resepsi sederhana di Gedung Maggala Wanabhakti, Jakarta Selatan. Habis pernikahan, kami tidak kembali lagi ke Australia tapi kami tinggal di Bumi Serpong Damai Tengerang. Mas Hen bekerja di perusaham Real Estate milik temannya Liem Boen Ken, sedangkan saya membuka usaha butik di Jalan Pakubuwono. Mungkin karena kami sama-sama sibuk dan sama-sama tension, tegang, maka walau sudah beberapa tahun umur perkawinan kami, tidak mendapatkan anak. Diperiksa ke medis, anehnya, kami sama-sama subur.

Tahun 1996 setelah tujuh tahun pernikakan, aku sempat hamil tapi prematur, bayiku lahir terlalu dini dan meninggal dunia. Tapi walau tidak memadai, namun bayi itu kami beri nama juga. Namanya Susanti. Hingga tahun 2002 lalu, setelah umur pernikahan 12 tahun aku tak lagi bisa hamil. Ke beragam rumah sakit terkenal di dunia, kami datang. Tapi hasilnya nihil. Begitu pula beberapa ahli alternatif juga kami datangi, juga nihil. Tapi Seorang kyai bilang, bahwa aku tidak akan punya anak sampai kapanpun. Sebab, rahimku sudah dipantek secara gaib, Ada kekuatan mistik yang diperlakukan oleh seseorang yang menaruh dendam kepada Mas Hen. Santet Bantet. Ibarat Mercon, amoniaknya basah sehingga tidak bisa meledak. Begitu pula dengan aku. Tak bisa beranak sampai kapanpun karena bantet. Padahal sebagai wanita, aku ingin sekali dapat anak. Aku tak bisa membayangkan apabila jompo nanti apabila tidak punya anak kandung.

Tapi Sang Kiyai membuat satu solusi. Solusi itu sinting dan sulit diterima akal sehat. Caranya, adalah mengadopsi anak gaib, caranya yaitu ritual masuk ke dalam istana jin di Goa Singgil Nusa Tenggara Barat dan meminta anak jin itu untuk dijadikan manusia biasa. Anak Jin itu akan dibuat mirip dengan wajahku atau wajah Han Suamiku, “Bila kau mau, saya akan membuat ritualnya dan anak itu akan datang dengan sendirinya diumur enam tahun. Tentang kapan datangnya, tidak dapat dipastikan, tapi dia akan muncul sewaktu-waktu di malam sedang berbulan, baik itu bulan sabit atau bulan purnama!” kata Sang Kyai. Sebelum aku bertanya, Pak Kyai menukas buru-buru. “Jangan takut, anak itu persis sebagaimana anak manusia biasa. Dia hidup layak tak ada beda sedikitpun dengan anak-anak seumurnya, Cuma bedanya, dia harus rajin diwiridkan dan dikirim surat surat Al Qur’an secara intens di kupingnya saat dia tidur, karena dia adalah jin Islam!” kata Sang Kyai. Mas Hen sangat tertarik tawaran kyai itu, yang akhirnya mendorongku ikutan juga, ikut tertarik untuk mencoba.

Maka itu, ritual di Goa Singgil pun dilakukan. Kami berangkat ke NTB dan ritual bersama Sang Kyai. Setelah ritual, kamu tinggal tunggu kehadiran anak itu. Saat Mas Hen membawakan lagu Sunda berjudul Ayun Ambing ciptaan Raja Gaib Jawa Barat, tiba-tiba bulan meredup. Malam pun di sekitar villa kami menjadi gelap. Tiba-tiba tubuhku menjadi hangat dan dari punggungku tercium bau kembang melati yang menyengat. “Mama, Mama, aku sudah datang, Ma” teriak seorang anak kecil, datang dari belakang punggungku. “Ma, namaku Susanti Ma, anak Mama dan Papa Hen!” katanya. Jantungku bergetar hebat, tubuhku tiba-tiba menjadi lemas. Dengan suara serak, kuteriaki Mas Hen yang sedang main piano. Mas Hen menghambur dan menemui kami. “Papa, aku Susanti anak Papa dan Mama!” desisnya. Susanti, ya anak hasil ritual gaib itu. Malam purnama 14 itulah dia datang, bukan di NTB, tapi Justru di Cisarua di villa kami. Kyai segera datang stelah ku telpon dan mensyahkan Susanti sebagai anak kami. Malam itu Susanti datang dengan busana putih ke merah-merahan. Baju dari kerajaan yang telah dikatakan Pak Kyai sebelumnya.

Kini pada tahun 2004 ini Susanti sudah berumur delapan tahun. Dia bersekolah di daerah Puncak, dekat villa kami, Sebagaimana manusia biasa, Susanti tumbuh dengan pesona khasnya, lincah dan ramah dalam pergaulan. Hingga sekarang, tidak seorang pun teman sekolahnya tahu siapa Susanti sebenarnya. Semua tahu kalau Susanti itu anak kandungku, apalagi raut wajahnya sangat mirip dengan wajah Mas Hen suamiku. “Kalau anak gadis mirip wajah bapaknya, itu sebagai pertanda perkawinan itu abadi, kalian sejodoh!” kata ibu-ibu teman sekolah Susanti. Dikatakan begitu, aku hanya tersenyum dan mengucapkan kata insya Allah dan Alhamdulillah, Susanti kini sangat membahagiakan hati kami. Dia bertingkah lucu, kocak tapi juga cerdas. Kata Kyai, sebagaimana manusia biasa, Susanti pun bisa sakit dan pada saatnya, bisa pula meninggal dunia. Untuk itu, sesuai saran mistis yang disampaikan Kyai, susanti kami rawat dan dengan intesif kami kirim surat surat dan ayat ayat Al Qur’an di telinganya saat dia tidur. “Susanti itu adalah kembaran gaib dari janin Anda yang pernah meninggal tahun 1996 yang lalu!” terang Kyai. Kami hanya bisa manggut-manggut dan berterima kasih. ©️KyaiPamungkas.

Paranormal Terbaik Indonesia

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here