Kisah Kyai Pamungkas: Pohon Keramat di Makam Ki Ageng Selo

0
108

Kisah Kyai Pamungkas:
Pohon Keramat di Makam Ki Ageng Selo

la bak manusia setengah dewa. Dengan kesaktiannya yang luar biasa, Ki Ageng Selo mampu menangkap petir déngan tangan kosong ketika sedang mencangkul di tengah sawah…

Konon petir yang berhasil ditahlukkan itu pernah dipamerkan pada khalayak umum. Bahkan Raden Patah, yang bergelar Sultan Akbar dan merupakan Raja Pertama Demak Bintoro ini juga menyaksikan secara langsung. Dan sebelum dipamerkan, Ki Ageng Selo pernah meminta kepada Raden Patah, agar petir (bledeg-Jw) taklukkan yang bernama Gandrik diperlakukan sebagaimana layaknya.

Sayang, dan entah kenapa, di alun-alun Demak, Gandrik yang perwujudannya berupa manusia berkepala naga itu disiksa tanpa perikemanusiaan. Sebagai manusia pilihan yang memiliki sifat welas asih, akhirnya Ki Ageng Selo memutuskan untuk melepaskan kembali taklukkannya. lni adalah suatu bukti, betapa manusia seringkali ingkar dengan janji yang telah diucapkannya.

Yang terjadi adalah kebalikannya. Walau telah mendapatkan kemerdekaan, tetapi Gandrik tetap saja tak mau berpisah dengan Ki Ageng Selo. Walau perwujudannya tampak mengerikan, tetapi, ia adalah makhluk yang tahu balas budi. Bahkan ia mengucapkan prasetya yang benar-benar menggiriskan, yakni, mengabdi untuk selama-Iamanya kepada Ki Ageng Selo. Sampai tulisan ini di turunkan, masih banyak yang percaya jika Gandrik tetap setia menjaga makam Ki Ageng Selo yang terletak di Dukuh Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, Purwodadi.

Walau banyak pohon jenis Gandrik atau Gandri tumbuh diberbagai tempat, namun pohon yang satu ini dipercaya memiliki nilai historis yang menakjubkan. Yaitu ketika Ki Ageng Selo berhasil menangkap petir yang menyambarnya dan mengikatkannya di pohon ini. Dan selanjutnya, pohon yang semula tanpa nama itu akhirnya mendapatkan nama sesuai dengan petir yang berhasil ditaklukkan oleh Ki Ageng Selo. Gandrik!

Pohon Gandrik di Makam Ki Ageng Selo

Sampai sekarang banyak peziarah yang datang ke tempat ini. Selain mengambil api abadi dari petir yang terdapat di makam Ki Ageng Selo, bisanya mereka juga mengambil potongan ranting pohon Gandrik untuk dijadikan pegangan atau ajimat. Mereka percaya, ranting pohon ini mampu mensugesti pemilknya untuk;

  • Penangkal petir, sang pembawa tak akan disambar petir.
  • Mengobarkan semangat yang padam.
  • Tolak balak atau penangkal kesialan.

Kriteria tersebut di atas telah membuat Kyai Pamungkas dan tim merasa tertarik untuk menguak nuansa mistik yang terdapat di pohon yang dikeramatkan itu. Dan setelah memohon restu kepada gaib Ki Ageng Selo, mulailah kami mencoba menembus dimensi maya tempat itu. Dari samar yang berbalut keremangan, kini, tampak sosok mengerikan yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya langsung berdiri. Atau bahkan ambil langkah seribu.

Sungguh tak dapat terbayangkan jika di alam nyata ada. Konon, petir yang berhasil ditaklukkan itu pernah dipamerkan penampakkan sosok bertubuh tinggi besar dengan kepala menyerupai buaya yang penuh dengan kobaran api bahkan kita tak akan pernah dapat membedakan ekspresi dari raut wajahnya. Apakah kini ia sedang marah atau tersenyum. Dengan suara berat sosok itu memperkenalkan jatidirinya sebagai Kyai Gandrik. Di kalangan penghayat spiritual ada pendapat yang menyatakan, “ltu adalah simbol dari nafsu amarah Ki Ageng Selo yang ditancapkan di pohon Gandri.”

Dan yang paling menarik untuk dikaji adalah, di wilayah desa Selo ada pamali atau pantangan khusus yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun. Yakni, warga yang mukim di wilayah ini dilarang keras berjualan nasi. Hal ini disebabkan, semasa hidup, Ki Ageng Selo melarang warganya yang mempunyai penghasilan dengan cara memperjualbelikan beras apalagi nasi. Dan nasi hanya boleh dibagi-bagikan kepada penduduk Selo yang memang kehidupnya pas-pasan.

Meski begitu, pernah ada orang yang nekad melanggar pamali itu. la berjualan nasi di desa Selo. Saat itu langit begitu cerah, tak ada mendung, rintik hujan, apalagi angin yang berhembus kencang. Tiba-tiba, warung nasi itu disambar ‘petir’ sampai roboh. Dan setelah diteliti, ternyata pemilik warung itu hangus. Mati terkena kilat petir aneh. Sejak itu, bahkan sampai kini, warga Selo tak pernah ada yang berani melanggar pamali turun temurun itu.

Ituk itu, kami hanya bisa menitipkan pesan, bagi siapa pun yang datang untuk “ngalab berkah” di makam Ki Ageng Selo, akan Iebih baik jika membawa perbekalan sendiri. Dan jangan lupa membawa teplok (lampu tempeI) untuk mengambil api abadi – bledeg yang ada di makam Ki Ageng Selo, menurut tutur api abadi – bledeg ini mampu mensugesti pemiliknya mendapatkan penerangan di dalam mengarungi hidup dan kehidupannya di dunia. Asal jangan sampai mati tentunya.

Ki Ageng Selo

Begitu memasuki makam, maka, akan tampak tiga makam utama. Selain Ki Ageng Selo di situ juga ada makam isterinya yang dikenal dengan Garwo Sepuh, dan isteri mudanya Garwo Enem. Dan di sini, para peziarah tidak akan mendapatkan karomah untuk kekayaan dunia. Melainkan hanya ketenteraman batin dan tercapainya segala cita asal dilakukan dengan perjuangan yang gigih. Dan hal ini terjadi karena konon sewaktu Sunan Qadly Zaka punya gawe, para tamu yang datang diberi bawaan ‘berkat’. Tetapi Ki Ageng Selo tak mau membawa secara berlebihan, akibatnya, sebagian berkat Ki Ageng Selo dibawa oleh Sunan Kudus. Sejak itu timbul kepercayaan, bila ingin kaya duniawi, maka, berziarahlah untuk mengambil karomah di makam Sunan Kudus. Dan itu semua hanya kepercayaan, jadi terserah bagaimana pembaca menyikapinya.

Tak hanya itu, di sekitar makam Ki Ageng Selo juga terdapat tujuh makam sahabat dan prajurit pilihan semasa beliau menjabat Ki Ageng di bumi Perdikan Selo. Dan di dalam kontemplasi, kami berhasil menjumpai sosok gaib yang menjaga kawasan makam Ki Ageng Selo.

Yang berbadan besar tambun mengenakan pakaian serba hijau dengan bersenjatakan sebuah pusaka berupa Gada, mengaku bernama Ki Butho Ijo. Sedang yang berbusana serba hitam dengan iket blangkon seperti orang Jawa tempo dulu, mengaku sebagal Kyai Ageng Randah.

Sedang cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah waktu Ki Ageng Selo disambar petir Gandrik, hingga sekarang masih dirawat di Keraton Surokarto Hadiningrat. Dan dianggap sebagai pusaka andalan utama keraton tersebut. Sayang, tak ada yang diperbolehkan untuk melihatnya. Bahkan, hanya raja yang Jemeneng Noto sajalah yang diperkenankan untuk memegang dan sekaligus penjamasannya. Tak boleh diwakilkan walau oleh penjamas keraton sekalipun.

Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari Bumi Selo. Meski tanahnya gersang dan tandus, namun dengan kegigihan yang luar biasa, walau hanya seorang dari desa (meski punya trah Majapahit) tetapi ia mampu menurunkan garis luhur Tanah Djawa. Bahkan, keturunannya mampu menjadi pemegang tampuk kekuasaan nomor satu Bumi Djawa bahkan Nusantara. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here