Kisah Kyai Pamungkas: Peri Penghuni guci

1
24

GUCI ANTIK DIHUNI PERI-PERI CANTIK

BAGAIMANA MUNGKIN SEBUAH GUCI BERPENGHUNI PERI-PERI CANTIK? TAPI MEMANG ITULAH YANG TELAH TERJADI. BERIKUT INI KISAH LENGKAPNYA….

WAKTU itu, saya (Penulis) datang ke sebuah desa yang sebut saja dengan nama RR. Desa ini masih masuk ke wilayah Barito Timur, Kalimantan Tengah. Kunjungan saya ini tepatnya, berlangsung pada April 2000 silam.

Saya dan isteri datang ke desa RR dengan niat ingin merayakan hari ulang tahun saya di desa kecil dan nyaman itu bersama-sama dengan penduduk sekitarnya. Maklum saja, penulis dan semua penduduk desa itu sudah saling mengenal dan terikat tali persaudaraan yang kental secara baik. Desa RR dengan penduduknya yang hampir bermata pencaharian sebagai petani karet, hidup rukun berdampingan antara satu dengan yang lainnya.

Karena itu, entah kenapa, tahun ini rasanya saya ingin sekali merayakan HUT saya dengan ucapan syukur bersama penduduk desa RR. Acara ini persisnya akan saya langsungkan di rumah Bapak Sahen, yang memang famili penulis.Rumah Bapak Sahen sebagai famili dekat, merupakan tempat di mana saya selalu menginap bila datang ke tempatnya. Jadi saya sudah terbiasa dengan pola hidup Mereka juga penduduk sekitarnya.

Hari itu, setelah acara syukuran HUT dan ucapan syukur atas kesehatan dan juga rezeki yang Tuhan selalu berikan kepada saya, maka menjelang malam, sayapun tertidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran berarti. Dalam tidur inilah saya bermimpi seakan-akan saya sedang mendorong sebuah gerobak yang berisi penuh dengan padi melimpah.

Dalam mimpi itu, saya juga berjumpa dengan seorang kakek tua berumur kira-kira 80 tahun. Si kakek sedang membawa guci. Walau usianya sudah sangat tua, namun kelihatannya dia masih sangat sehat dan gagah. Ketika kami berpapasan, kakek tua itu memanggil saya. Dan sayapun berhenti di depannya.

“Anak muda, masukkanlah padimu ke dalam guci kakek ini. Maka hidupmu akan menjadi makmur. Apa saja yang kamu cita-citakan akan berhasil!” Kata kakek itu sambi menaruh gucinya di atas gerobak padi yang saya dorong.

Belum lagi saya berkata-kata, kakek itu telah berlalu dengan begitu cepatnya dari hadapan saya. Setelah itu, saya terjaga dari mimpi sampai bercucuran dengan keringat. Mungkin karena begitu lelah sebab mendorong gerobak padi, meski hal itu hanya ada dalam mimpi.

Ketika saya melihat jam dinding, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 02.50 WIB. Sambil meminum air putih dari gelas plastik yang sudah dipersiapkan, saya jadi mereka-reka arti dari mimpi tadi. Tapi akhirnya saya menganggap mimpi itu hanya bunga tidur semata. Saya pun melanjutkan tidur malam tanpa memikirkan lebih jauh lagi arti mimpi tadi. Karena pikir saya, apalah arti sebuah mimpi. Sebab semua orang pun bisa saja bermimpi dalam tiap-tiap tidurnya.

Esok harinya, saya dan Bapak Sahen selaku penduduk asli, bermaksud ingin memancing ikan di aliran sungai Paku. Sungai ini, walau tidak terlalu besar tapi banyak ikannya. Namun kini airnya telah berubah agak keruh dan kehitaman, tidak seperti tahun 80-an. Ketika air sungai Paku masih terlihat jernih dan ikannya besar-besar.

Dengan peralatan pancing seadanya, saya dan Pak Sahen berjalan menuju tempat memancing. Jarak yang kami tempuh tidaklah terlalu sulit, namun harus melewati hutan yang cukup lebat dan perkebunan karet yang rindang.

Berkisar satu jam kemudian, sampailah saya di tepian sungai Paku yang menjadi tempat dan tujuan kami memancing. Dengan umpan yang tadi sudah kami siapkan dari rumah, maka kami pun mulai memancing.

Tidak terlalu lama saya melempar umpan pancingan, tiba-tiba terasa tali pancing menjadi berat seperti ada ikan yang menarik-narik dari dalam air. Ketika saya menarik benang pancing itu, terangkatlah seekor ikan gabus yang sangat besar berkisar antara 3 kg beratnya. Barangkali, ini ikan terbesar yang dapat saya tangkap dari hasil memancing selama ini. Anehnya, setelah mendapatkan ikan gabus pbesar ini, umpan-umpan pancingan saya tidak menghasilkan tangkapan ikan lagi.

Menjelang tengah hari, saya dan Pak Sahen pulang kembali ke rumahnya dan hanya membawa seekor ikan saja dari hasil tangkapan kami berdua. Sedangkan Pak Sahen tidak mendapatkan seekor ikanpun pada hari itu.

Di perjalanan, kami berdua bertemu dengan seorang laki-laki tua berumur kira-kira 60 tahun. Rupanya laki-laki tua itu bukan penduduk asli desa RR. Hal ini saya ketahui setelah saya tanyakan pada Pak Sahen, sebab antara Pak Sahen dan laki-laki tua itu tidak saling mengenal. Meski begitu, kami tetap saling menyapa. Hal ini menunjukkan betapa rukunnya kehidupan di desa kecil yang nyaman dan tentram, tidak seperti orang-orang yang tinggal di kota besar hampir tidak memperdulikan satu dengan yang lainnya.

Ketika saya berpapasan dengan laki-laki tua tadi, terjadi dialog beberapa saat dengannya. Laki-laki tua itu menawarkan suatu barang yang dibawa di dalam keranjang yang cukup besar. Tak dinyana, rupanya pak tua itu menawarkan sebuah guci yang mau dijual dan ditawarkannya pada kami berdua.

Dengan dialog memakai bahasa Dayak Ma’anyan antara pak tua dan pak Sahen, yang saya sendiri hanya bisa sedikit mengerti bahasa mereka rupanya pak tua sedang dalam kesulitan keuangan yang sangat mendesak. Karena itu, pak tua ingin menjual guci miliknya walau dengan berat hati, karena guci itu peninggalan dari leluhurnya yang sangat dikeramatkan. Perlu diketahui, selain mandau, guci juga merupakan benda pusaka yang menjadi ciri khas orang-orang Dayak.

Ketika pak tua mengeluarkan guci dari dalam keranjang yang dibawanya, betapa terkejutnya saya. Sebab, guci yang ditawarkan pak tua itu sama persisnya dengan guci yang saya lihat dalam mimpi tadi malam.

Jantung saya spontan berdetak dengan tak beraturan iramanya. Mungkin karena begitu terkesima pada apa yang saya lihat. Karena guci itu memang sama persis seperti yang saya lihat dalam mimpi saya semalam.

Langsung saja saya tertarik, dan ingin memiliki guci itu. Akhirnya guci pun berpindah tangan. Saya membayar dan memberikan lembaran uang kertas kepada pak tua. Dengan wajah berseri dan mengucapkan terima kasih, pak tua itupun berlalu. Tak lupa sebelumnya kamipun saling bersalaman sebagai tanda terima kasih.

Waktu itu, kira-kira pukul 15.30 menjelang sore. Dengan hati yang teramat senang, saya membawa pulang guci itu. Walau dalam hati, saya tetap bertanya-tanya; Mengapa guci yang baru saya miliki ini sama persis dengan yang saya lihat dalam mimpi saya tadi malam.

Namun, karena rasa senang mendapat guci antik, sayapun tidak memikirkan mimpi saya lagi dan berjalan beriringan pulang bersama Pak Sahen menuju tempat kediamannya. Rasa senang tetap menggayut di dada, sambil membersihkan dan meneliti guci itu, hati sayapun semakin menjadi senang.

Guci berwarna coklat kehitaman yang warnanya sedikit sudah mulai pudar, terasa begitu menawan hati, Dengan tinggi 55 cm dan berdiameter 22 cm. Menurut perkiraan, guci ini telah berumur ratusan tahun, Dihiasi empat ekor naga yang sedang bermain bola api serta burung-burung yang menemani sang naga bermain, menambah indah dan mempesonanya guci ini.

Setelah dibawa pulang dan sampai di rumah saya yang ada di Jakarta, guci inipun masih selalu saya perhatikan dan teliti. Hingga pada suatu hari, salah seorang sahabat saya datang berkunjung ke rumah. Dia melihat guci itu, dan rupanya dia sangat tertarik dan mengaguminya. Memang, kebetulan dia juga seorang arkeolog yang senang dengan barang-barang seni. Kata sang sahabat, guci tersebut merupakan wadah bekas dipakai menyimpan perhiasan-perhiasan oleh dinasti yang berjaya pada masanya. Tak hanya itu, melihat bahannya guci tersebut juga bisa menyerap dan mentransfer racun. Guci ini bisa sampai ke pulau Kalimantan karena dibawa oleh orang-orang yang sedang berdagang sewaktu masih jaya-jayanya kerajaan Kutai Mulawarman di Kalimantan Timur.

Lalu secara turun-temurun guci tersebut terus berpindah-pindah tangan sampai akhirnya sekarang berada di tangan saya. Sungguh merupakan jodoh dan suatu keberuntungan, saya bisa mendapatkan guci antik ini dan bisa memilikinya tanpa sengaja. Memang ibarat pepatah mengatakan, “Garam di laut, asam di gunung. Bisa bertemu di dalam periuk.” Dan itulah kekuasaan Tuhan, segalanya telah diatur oleh Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Pernah beberapa kali saya memasukan cairan karbol lalu dicampur dengan air sumur ke dalam guci ini, dan juga memasukkan beberapa ekor ikan sepat yang hidup di air tawar. Dan apa yang terjadi, berselang 5 menit kemudian ikan-ikan itu ternyata masih tetap hidup dan berenang kian kemari seperti di air biasa.

Rupanya guci ini benar-benar bisa menetralisir racun dan bisa menawarkan racun menjadi tidak berbahaya lagi bagi ikan-ikan yang ada di dalamnya.

Kini tujuh tahun lebih guci keramat ini dirawat oleh saya. Tapi baru sekitar tiga tahun belakangan ini, penghuni gaib guci sewaktu-waktu mau menampakkan dirinya pada saya, atau mungkin juga pada orang-orang yang mempunyai mata batin yang kuat.

Jujur saja, saya tidak memuja-muja guci ini. Tapi hanya sebatas merawat dengan kesederhanaan yang bisa dilakukan. Gaib guci ini meminta diletakkan di tempat yang agak tersembunyi dari pandangan orang. Dan meminta di dalamnya selalu tersedia beras ketan kuning serta minyak melati murni.

Karena dari beras kuning yang disimpan dalam guci ini, penulis selalu memberikan berasnya pada orang-orang yang membutuhkan. Konon, beras kuning ini bisa membuka aura seseorang sehingga menjadi cantik dan tampan. Yang sulit mendapatkan jodoh akan mudah mendapatkan jodohnya, yang berdagang dan bekerja bisa cepat naik pangkat dan mendatangkan keuntungan dalam usaha dagangnya.

Hal ini dapat saya ketahui tentunya atas petunjuk dari peri-peri gaib dan cantik-cantik yang menghuni guci kuno itu. Gaib ini juga selalu dapat diajak berdialog dan menampakkan wujudnya pada saya. Hal ini bisa terjadi mungkin karena guci selalu terjaga dan terawat dengan baik. Maka gaib penunggunya menjadi akrab dan betah tinggal di dalam guci tersebut.

Tentunya tergantung dari keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing, bahwa makhluk gaib itu ada dan bisa hidup berdampingan dengan manusia asalkan kita tidak memuja-mujanya dengan cara berlebihan, apalagi sampai menyekutukan Tuhan. Lakulanlah semuanya dengan wajar, maka para gaib itu akan taat dan bisa membantu pekerjaan dan usaha yang tengah atau akan kita kerjakan, sehingga usaha dapat berjalan dengan mudah dan lancar.

Semoga pengalaman dan kisah ini bisa memberi hikmah buat kita semua, bahwasanya Tuhan telah menggariskan jalan-hidup pada semua umat ciptaanNya, dan kita harus percaya bahwa hanya dengan meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa dan taat pada perintah-perintahNya, serta giat bekerja, niscaya segala sesuatu yang kita kerjakan dan usahakan akan terwujud dan menjadi kenyataan. Amin ya robbal alamin… ©️KyaiPamungkas. 

Paranormal Terbaik Indonesia

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here