Makam Penembahan Selo Hening Dijaga Naga Laut Kyai Ganduaji

1
21

Dari namanya sudah dapat terbaca, betapa tokoh yang di makamkan di sini pastilah seorang yang memiliki ketenangan jiwa yang nyaris sempurna. Makam yang dikenal dengan sebutan Panembahan Selo Hening, terdapat di bukit kecil Selo Hening, Parang Tritis, Bantul, Yogyakarta ….

Makam Penembahan Selo Hening Dijaga Naga Laut Kyai Ganduaji

Lokasi makamnya tak sulit untuk ketemukan. Tapi, karena tak ada penunjuk arah, akibatnya, para peziarah yang datang dari luar kota sering mengalami kesulitan. Yang jelas, banyak yang meyakini, itu semua adalah cobaan awal dari sang penembahan kepada siapa pun yang datang menziarahinya.

Sejarah menyuratkan. Panembehan Selo Hening sebenarnya adalah putra selir dari Prabu Brawijaya Pamungkas, saat masih muda, tanpa sengaja ia mendengar perdebatan tentang keyakinan agama antara sang ayah dengan saudaranya, Raden Kasan atau Raden Patah. Kala itu, dengan amat sangat Raden Patah meminta sang ayahanda agar memeluk agama suci yang berasal dari tanah Arab.

Singkat cerita, akhirnya, Prabu Brawijaya Pamungkas pun mengalah. Ia bahkan memberikan rambutnya yang tumbuh lebat dan digelung sebagai ciri khas dari penganut agama lama di zaman Majapahit, untuk dipotong dengan keris oleh Raden Patah. Dan apa yang terjadi? Walau telah menggunakan keris pusaka yang paling ampuh, tetapi, rambut Prabu Brawijaya Pamungkas tak juga bisa putus. Melihat kejadian itu, Raden Patah pun menyimpulkan bahwa hati sang ramanda tidak tulus untuk meninggalkan agama lama dan berganti dengan memeluk agama suci dari tanah Arab yang sekarang kita kenal dengan nama Islam.

Kejadian yang tanpa sengaja dilihatnya telah membuat Penembahan Selo Hening menjadi galau. la berpikir, nantinya, ia pasti akan dirninta untuk melakukan hal yang sama dengan ramandanya. Memeluk agama islam. Untuk mempertahankan keyakinannya, diam-diam, ia pun memutuskan untuk meninggalkan keraton Majapahit. Sejak itu, ia mengembara dan berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya, tiba di Parangtritis. Di bukit kecil yang banyak terdapat di pantai Parangtritis ini, sang putra raja melakukan mesu budi yang berkepanjangan hingga mendapatkan wahyu keprabon (wahyu raja).

Agaknya, Panembahan Selo Hening tak tertarik dengan gebyar dunia. Wahyu Keprabon yang banyak diinginkan oleh manusia agar dirinya dapat menjadi penguasa dunia tak berhasil mengusik hatinya. Bahkan, dengan ikhlas ia menyerahkan wahyu keprabon itu kepada sang kakak, Raden Patah. Dan ia sendiri terus melanjutkan hidup sebagai pertapa di sana. Dan sejak itu pulalah ia dikenal sebagai Panembahan Selo Hening.

Watu gilang tempat duduknya saat ia melakukan mesu budi dan belakangan dipakai sebagai alas kubur dari jasad Panembahan Selo Hening, ternyata memiliki keanehan tersendiri — konon, bila air laut pasang, batu itu tidak tenggelam. Tetapi terapung!

Menurut bapak Sindhu Guritno, spiritualis yang kebetulan bertemu dengan Misteri di sana menjelaskan, “Nak, dahulu, jika ada burung yang terbang melintas di atas makam Panembahan Selo Hening, dapat dipastikan jatuh dan mati. Hal itu sudah saya saksikan berulang kali.” Dan penjelasan itu dibenarkan oleh Mas Masyo, juru kunci makam Selo Hening.

“Dan agama yang dianut Panembahan Selo Hening sebenarnya adalah agama Djawi Wiwitan. Jadi beliau bukan penganut agama Hindu maupun Islam. Tetapi agama semacam kepercayaan asli yang dianut oleh kebanyakan penduduk pribumi. Saat itu, agama Djawi Wiwitan memiliki banyak penganut. Hal itu bisa kita lihat dengan didirikannya Candi Sukuh dan Cetho,” imbuhnya.

Dari keterangan yang berhasil dihimpun oleh Misteri, mulanya, Makam Panembahan Selo Hening berhasil diketemukan oleh salah seorang warga yang gemar melakukan olah batin. Saat melakukan samadhi di tempat itu, ia didatangi oleh seorang lelaki berpakaian Djawi dengan rambut digelung dan mengaku sebagai Panembahan Selo Hening. Dan sejak itulah makam tersebut selalu ramai diziarahi pengalab berkah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Apalagi bila malam Selasa dan Jum’at Kliwon.

Semasa hidup Panembahan Selo Hening selalu berfilsafat, manusia manembah dengan Tuhan, dan manusia berinteraksi dengan manusia. Selain itu, beliau juga memiliki sesantri hidup, yakni Mati Sakjroning Urip atau mati di dalam hidup dengan cara menutup Babahan Howo Songo atau sembilan lubang yang terdapat dalam diri manusia. Dan itu semua dilakukannya sebagai persiapan untuk menghadap Gusti (ba-GUSing aTI).

Setelah melewati pagar bercat hijau, akhirnya, Misteri beserta dengan para sahabat memasuki makam berporselen putih, cungkupnya juga dikerudungi kain beludru putih yang tampak agung dan penuh kharisma. Dan seperti biasa, bersama dengan Ki Atmo Saidi, Paranormal-Indonesia.Com mencoba menguak tabir gaib yang membalut tempat ini. Dan sungguh tak dinyana, ternyata, makam ini dilingkari seekor naga putih yang tampak begitu tenang. Seolah tak terusik dengan kehadiran kami. Dengan sabar Ki Atmo Saidi membangkitkannya. Tak terkesan kengerian dari naga yang mengaku bernama Kyai Ganduaji, naga laut penunggu Selo Gilang yang pernah digunakan bertapa oleh Panembahan Selo Hening.

Dan bahkan sang naga yang mengaku mendapat perintah dari junjungannya Khanjeng Ratu Kidul, menjelaskan, ia akan menyangga watu Gilang saat air laut pasang. Agaknya, inilah yang menyebabkan kenapa watu gilang itu tak pernah tenggelam saat air laut pasang.

“Nak, makam ini sangat manjur untuk penyuwunan. Dan sudah 60 tahun saya selalu berziarah di tempat ini,” ungkap bapak Sindhu Guritno, salah seorang penghayat aliran kebatinan dari Yogya. Walau hanya mengaku wong-pidak-pejarakan, tetapi, pancaran jiwanya membuat Paranormal-Indonesia.Com yakin bahwa bapak Sindhu Guritno adalah salah seorang sesepuh yang mempunyai banyak anak didik. Itulah salah satu ciri khas dari orang yang sudah mencapai tataran tertinggi dari ilmu yang dihayatinya.

Jejak Mistik Murid Sakti Syech Maghribi dan Syech Bela Belu

Pada zaman dahulu, toleransi beragama justru sudah tertanam begitu kuat. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua makam penyiar agama suci Islam yang berdekataan dengan makam penganut agami Djawi Wiwitan.

Kubur yang terdapat di bukit yang lumayan tinggi itu adalah makam Syech Maulana Magribi, sementara yang terdapat di bukit satunya adalah makam Syech Bela Belu. Perlu diketahui, Syech Bela Belu yang sebelumnya menyandang nama Pangeran Djoko Dandun, adalah murid dari Syech Maulana Malik Ibrahim. Kecintaannya kepada sang guru membuat ia selalu mengikuti kemana pun Syech Maghribi pergi.

Pada suatu ketika, setibanya di Parangkusumo, Syech Maulana Maghribi bertemu dengan Panembahan Selo Hening. Dan di dalam pertemuan ini, keduanya terlibat dalam perdebatan seru tentang keyakinan masingmasing. Karena sama-sama pandai, akhirnya, tak ada titik temu di antara keduanya. Bahkan keduanya memutuskan untuk saling menghargai kepercayaan masing-masing.

Bahkan, Syech Maulana Maghribi sendiri mengaku jika pengetahuan hidupnya masih dibawah Panembahan Selo Hening. Agaknya inilah yang menyebabkan kenapa ia memutuskan untuk maguru kepada beliau. Dan hal ini juga diikuti oleh Syech Bela Belu.

Setelah beberapa tahun necep ilmu dari Panembahan Selo Hening dan dirasa cukup, maka, untuk menguji sejauh mana pengetahuan yang telah dicapai keduanya disuruh memancing (untuk ukuran kala itu) di sebuah sungai yang tak begitu jauh dengan tempat tinggalnya.

Dan di saat memancing, Syech Maulana Maghribi mendapatkan seekor ikan Bader Bang Sisik Kencono yang sangat besar. Berbeda dengan Syech Bela Belu. Ia justru mendapatkan ikan yang sudah matang terbakar. Oleh mereka, kedua ekor ikan itu dihaturkan kepada sang guru, Panembahan Selo Hening.

“Jebeng Maghribi, meski lebih tua dari Kulup Bela Belu, namun dalam menimba ilmu kamu kalah matang,” demikian ungkap Panembahan Selo Hening dengan santun.

Karena hatinya agak jengkel, maka, walesan (joran, bambu untuk memancing-Jw) ditancapkan di tepi sungai. Seiring dengan itu, terdengar kata dari mulut Syech Maulana Maghribi, “Untuk mengingat peristiwa ini, maka, kelak rejaning zaman wilayah sekitar ini agar diberi nama Desa Mancingan.” Dan benar, sampai sekarang sungai dan desa itu dikenal dengan nama Mancingan. Yang paling menarik adalah, jika dirunut dari silsilah sebenarnya mereka masih memiliki alur garis keturunan. Jika ditarik garis keturunan dari leluhur Syech Maulana Maghribi, eyangnnya adalah Syech Majidil Oubro (dari Parsi), Nyai Tabirah, lalu menurunkan Syech Maulana Maghribi yang mengawini Dewi Rosuwulan (Putri RT. Wilwatikta, adik Sunan Kalijaga).

Dan dari pernikahan tersebut, lahir Djoko Tarub II (R. Kidang Telangkas) yang menikah dengan bidadari Dewi Nawangwulan. Dari pernikahan ini lahir seorang puri yang bernama Dewi Nawangsih yang dikawin oleh Pangeran Bondan Kejawan (Putra Brawijaya V atau ayah dari Panembahan Selo Hening dan Pangeran Djoko Dandun atau Syech Bela Belu).

Dari pernikahan itu, lahir Ki Ageng Getas Pendowo, yang menurunkan manusia penangkap petir, Ki Ageng Selo, yang berputra Ki Ageng Nis, berputra Ki Ageng Pemanahan, dan berputra Panembahan Senopati yang menurunkan raja-raja Tanah Djawa.

“Biasanya, jika Eyang Syech Maulana Maghribi rawuh selalu ditandai dengan datangnya angin yang cukup besar. Dan wujudnya adalah lelaki berwajah Timur Tengah, mengenakan pakaian serba putih dan membawa tongkat. Wajahnya sangat agung,” demikian ungkap Kajito, kuncen makam tersebut.

Mungkin tak banyak yang menyangka jika juru kunci makam berjumlah 37 orang dan bertugas secara bergilir di tiga makam. Yakni di makam Syech Maghribi, Syech Bela Belu dan Cepuri Parangkusumo. Dan di masing-masing tempat, sang juru kunci bertugas selama seminggu. Suatu pengabdian yang layak kita acungi jempol.

Pertapaan Pangeran Diponegoro Dijaga khodam Panembahan Surodipo

Jika menuju Parang Tritis, kita akan menjumpai sebuah goa di sebuah lokasi kolam renang, Itulah goa kecil yang sampai sekarang acap digunakan orang untuk samadhi. Dan pada zaman dahulu, goa yang satu ini pernah digunakan untuk bertapa oleh Khanjeng Pangeran Diponegoro, tatkala beliau bingung dalam menentukan pilihan atas kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Kompeni. Belanda.

Goa panepen yang masuk wilayah Parang Tritis. Projotamansari, Kretek, Bantul, dijaga oleh mbah Ngabehi Parang Samudro, lelaki tua yang juga merangkap sebagai penjaga loket kolam renang Goa Penepen.

Meski kecil dan letaknya tersembunyi, tetapi entah kenapa, Paranormal-Indonesia.Com merasa tertarik dengan lokasi ini. Bak ada suatu kekuatan gaib yang menarik-narik kareb manah untuk menjejakkan kaki di sana. Sehingga Paranormal-Indonesia.Com bertanya-tanya, ada kekuatan apa di goa yang pernah dijadikan ajang penempaan batin oleh Sultan Eru Cakra atau Raja Agung tanpa mahkota, Pangeran Diponegoro?

Dengan langkah tertatih-tatih karena usia yang sudah udzur, lelaki tua yang mengaku bernama Mbah Ngabehi Parang Samudra ini mengajak Paranormal-Indonesia.Com dan beberapa sahabat masuk ke dalam Goa Panepen. Dan selanjutnya, Ki Atmo Saidi mulai melakukan meditasi sambil membakar kemenyan Jawa di tempat ini. Seiring dengan itu, asap kemenyan yang mengepul mulai terasa menyesakkan dada. Tapi entah kenapa, mbah Parang Samudro melarang membakar hio wangi di tempat itu.

Tatkala Paranormal-Indonesia.Com sempat melirik, ternyata, sang sahabat mampu masuk ke alam astral tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh kemelun asap kemenyan yang memenuhi relung goa Panepen. Mendadak, dalam temaramnya suasana, Paranormal-Indonesia.Com menangkap ada sinar kebiruan memancar di depan Ki Atmo Saidi. Agaknya, ini merupakan pertanda dari kehadiran ruh agung. Seketika, Paranormal-Indonesia.Com pun mendekati Ki Atmo Saidi.

Dan dugaan Paranormal-Indonesia.Com ternyata benar. Seiring dengan meleburnya sinar kebiruan, kini, yang tampak adalah sesosok tubuh kurus berkulit putih dengan mengenakan busana berwarna biru laut. Badannya yang kurus mencerminkan hasrat raga dan menepnya sukma. Dan tak lama kemudian, terdengar lirih suara Ki Atmo menghaturkan salam tabik.

“Kulup Atmo, dan kamu Angger Sayid, ada perlu apa memanggil Eyang Panembahan?” Tanya khodam tersebut.

Dengan santun, Ki Atmo Saidi pun menjelaskan kedatangan kami. Dan dari tutur khodam yang mengaku bernama Panembahan Suro Dipo menjelaskan, pada zaman dahulu, goa yang terketak di tepian Pantai Parang Tritis ini pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro berkhalwat selama tujuh hati tujuh malam.

Dan akhirnya, atas petunjuk Khanjeng Ratu Kidul, Panembahan Suro Dipo diperintahan untuk menyampaikan pesan kepada Pangeran Diponegoro untuk mengakhiri khalwatnya dan segera menuju ke Goa Langse. Di goa yang sampai sekarang ramai dizirahi orang, akhirnya, Khanjeng Pangeran Diponegoro bertemu dengan Khanjeng Ratu Kidul — dan sekaligus mendapatkan restu untuk memulai perang suci guna mengusir kebatilan di Tanah Jawa.

Entah kenapa, goa Panepen tak seramai dulu. Belakangan, kebanyakan mereka hanya datang untuk berziarah ke Cepuri Parangkusumo. Atau mungkin tak banyak yang tahu, jika kekuatan aura dari goa yang satu ini amat kuat dan menjanjikan ketenangan jiwa. Wajar saja, hal ini dikarenakan sosok gaib yang bernama Panembahan Suro Dipo adalah andalannya Khanjeng Ratu Kidul. Di mana di istana Pantai Selatan, kedudukannya adalah sebagai salah satu penasehat spiritual dari ratu yang berkuasa.

“Setiap malam Selasa Kliwon, Panembahan Suro Dipo selalu sowan ke Keraton Kidul. Dan tanda-tanda kepergian beliau selalu didahului oleh angin besar yang ke luar dari dalam Goa Panepen. Dan seiring dengan itu, laut pun akan bergelombong besar,” tutur mbah Ngabehi Parang Samodro.

Dan setelah dianggap cukup, kami pun mohon diri untuk meninggalkan goa Panepen yang memang benar-benar sepi. Bahkan hening. Di mana keheningannya seakan hanya terusik. oleh desah dan debur dari gelombong laut kidul yang tak henti menjilat bibir pantai.

Paranormal Terbaik Indonesia

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here