Kisah Kyai Pamungkas: Sergapan Pocong Rumah Tua

0
111

Kisah Kyai Pamungkas:
SERGAPAN POCONG RUMAH TUA

Seminggu usai nikah, kuboyong istriku ke sebuah rumah kost di Kebon Jati sebutlah begitu, di Jakarta Timur. Di rumah mungil berjarak 200 meter dari jalan raya ini, pocong itu kami temukan…

Meskipun kami sama-sama belum memiliki perabotan rumah tangga, tetapi di rumah yang kami kost ini nyaris semua perabotan tersedia. Seluruh peralatan rumah adalah milik tuan rumah yang sengaja diletakkan di situ. Bila kami mau, perabotan itu boleh kami gunakan. “Daripada berdebu dan rusak….. kan Iebih baik dipakai,” kata Pak Amran, pemilik rumah.

Di antara sekian banyak perabotan rumah tangga yang dipinjamkan ada sebuah balai-balai bambu yang ditempatkan di sudut dapur. Karena barang itu menyita tempat, maka aku pindahkan keluar, di samping pintu dapur. Pada siang hari istriku memanfaatkannya untuk menaruh perlengkapan dapur yang baru dicuci. Setelah kering barulah alat itu dipindahkan ke rak piring.

Sebulan sejak kepindahan kami di rumah itu, tidak terjadi hal-hal yang aneh kecuali beberapa kali air di bak kamar mandi tekadang penuh sendiri padahal aku dan isteriku tidak merasa mengisinya. Kadang pula, bak air itu kering meski baru diisi dan belum dipakai.

Menghadapi kejanggalan itu kami hanya berfikir mungkin pada bagian dasar bak ada yang bocor meski sekecil apapun hingga air merembes ke luar. Hal lain yang terasa janggal, adalah jarangnya orang _ lalwlalang di jalan depan rumah yang kami tempati, padahal jalan gang rumah kost kami itu adalah jalan alternatif yang dapat menembus ke beberapa gang lainnya di sekitar daerah itu.

Tetapi pada siang haripun hanya sesekali orang yang melintas. itupun beramai-ramai beberapa orang. Belum pernah aku melihat ada orang yang melintas sendirian di jalan itu. Terlebih waktu maghrib, tak seorangpun yang melintas di depan rumah kami. Justru suasana sepi inilah yang kami sukai, karena dengan begitu kami tidak terusik oleh suara berisik dari orang-orang yang melintas atau suara bising anak-anak yang bermain-main. Dengan begitu artinya kami bisa beristirahat dengan tenang.

Pada malam-malam sebelumnya, kami biasanya baru masuk ke kamar antara pukul 22.00 WIB. Setelah berbincang-bincang di ruang tamu atau di teras kami masuk bersama-sama. Entah kenapa, malam itu aku tak mampu menahan rasa kantuk yang begitu hebat. Padahal jam masih menunjukkan angka 19.30 WIB. Walau masih sore, karena rasa kantuk itu, maka aku beranjak pula ke tempat tidur.

Entah sudah berapa lama aku dan istriku tertidur, tiba-tiba hawa di kamar tidurku terasa begitu panas. lstriku pun merasakan hal yang sama. Padahal sebelumnya di rumah ini udara terasa begitu sejuk meski di siang hari saat matahari sedang terik.

Aku dan istri ku pun keluar dari kamar sambil membawa kasur dan bantal. Kami sepakat malam itu untuk tidur di ruang tamu dengan posisi dekat jendela. Harapan kami, ada angin sepoi-sepoi yang masuk di sela jendela yang bolong dan cukup membuat sejuk.

Semua lampu dipadamkan, kecuali sebuah lampu lima watt yang dibiarkan menyala di ruang tengah dan sebuah lampu lainnya di teras luar rumah. Hal ini memang sudah kami lakukan sejak pertama kami pindah ke rumah ini.

Beberapa saat kami berbincang berbagai hal, jarum jam sudah menunjukkan pukul 24.30 dinihari. Setelah Ielah ngomong, istriku tertidur pulas. Sedangkan aku, masih terjaga sambil menghisap rokok. Rasa kantuk tiba-tiba menjauh dari mataku. Kuhisap dalam-dalam rokokku sambil melamunkan tentang bagaimana merajut hari depan yang lebih baik. Sebab mau tidak mau suatu hari isteriku akan hamil dan kami akan mempunyai anak. Karena abu rokok semakin panjang, maka abu itu kubuang di jendela ruang tamu. Maksudku, kubuka jendela sementara waktu lalu kututup lagi setelah abu rokok itu terbuang.

“Menurut hematku, kalau abu itu kubuang di lantai, lantai akan menjadi kotor dan terlihat jorok, sementara asbak baru saja dicuci dan ada di rak piring belakang. Aku agak malas mengambilnya, pada saat aku membuang abu rokok, pada saat itulah pandanganku tertuju pada sesosok benda putih yang sedang bergerak menghampiriku. Kucoba berulang kali mengucek-ucek mataku untuk meyakinkan pandanganku itu, tapi ternyata apa yang kulihat benar-benar pocong. Pocong itu berjalan dengan cara melompat-Iompat menuju ke arah rumah kami. Jantungku bergetar hebat dan nyaliku tiba-tiba menjadi ciut.

Dengan gerak reflek aku langsung melompat bangun dan lari ke arah istriku dan membangunkannya yang lagi tidur pulas. “Lari, lari, ada pocong di depan!” pekikku, pada isteriku. Isteriku terbangun kaget dan panik. Dia muter-muter di ruang tamu sebelum ikut aku Iari ke belakang.

Sesampainya di belakang, kami membuka pintu dapur lalu ke luar melewati balai-balai. Di balai-balai itu nampak jelas sosok mayat telanjang yang seakan-akan sedang dimandikan oleh keluarga sebelum dibungkus kafan. Kami berdua secara bersamaan berteriak minta tolong sambil berlari ke arah jalan raya.

Teriakanku dan teriakan istriku dinihari itu membangunkan tetangga sekitar. Mereka berbondong-bondong menolong isteriku dan aku dengan memberi kami air minum dan sebagian berusaha menbujuk agar kami tenang. Setelah agak pulih, kami ceritakan apa yang terjadi di rumah kontrakan itu. Anehnya tetangga-tetangga kami itu tidak memberi reaksi kaget. Mereka nampak biasa-biasa saja mendengar kasus pocong dan mayat di balai-balai itu. Mereka hanya saling pandang dengan mata setengah berkedip antara satu sama lainnya, yang sulit ditebak tentang maknanya. Malam itu praktis kami tidak dapat tidur hingga fajar tiba.

Melalui seorang ‘linuwih’ Kyai Pamungkas yang juga tau kondisi kampung ini sekaligus punya hubungan yang lumayan dekat dengan pemilik rumah kontrakan yang kami tempati, terkuaklah penyebab munculnya ‘tamu’ yang tak diharapkan itu. Ternyata pada malam kejadian datangnya arwah orang mati yang maujud dan menghebohkan itu, seharusnya diselenggarakan tahlilan memperingati empat puluh hari wafatnya almarhum Pak Karma, ayah kandung Pak lmran. Di masa hidupnya. Iaki-Iaki berumur 69 tahun itu tinggal di rumah yang kami tempati. Bahkan saat menghembuskan nafas terakhir pun, Pak Karma sedang berada di rumah yang kami tempati itu.

Pada malam yang seharusnya dilakukan tahlilan itu, cucu Pak Karmar anak bungsu Pak Amran, Lolita justru tengah mengadakan pesta pernikahan di rumah miliknya di kampung yang berbeda, sekitar 1000 meter dari rumah kami. Acara yang seharusnya baca-baca doa di 40 hari kematian kakeknya itu si cucu malah bergembira ria dan berpesta meriah. Tahlilan itu disepelekan dan tidak dianggap penting oleh mereka. Si cucu bahkan membuat pesta perkawinan dangdut koprok, yang menampilkan wanita-wanita perpakaian seksi berjoget seronok.

Syahdan, ternyata kepindahan kami ke rumah Kontrakan itu hanya selang tiga hari setelah berlangsungnya tahlilan tujuh hari almarhum. Pada malam yang sama, ternyata di tempat pesta dangdut, ada pula penampakkan Hantu Pocong Pak Karma dan membuat beberapa pengunjung dangdut jatuh pingsan. Setelah mendengar cerita panjang lebar mengenai hantu itu, juga mensiasati akan bergentayangannya hantu pocong, kami berdua saling menginjak kaki dengan keputusan pasti, pagi itu juga kami meninggalkan rumah kontrakan itu, membawa lima koper pakaian dan dititipkan di Edi teman kantor yang kost tak jauh dari kami. Hari itu juga, kami berusaha mencari rumah kost baru, yang berada di keramaian kampung dan bersih dari penampakkan pocong. Ya, suatu rumah kost yang tentu saja tidak ada hantunya. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here