Kisah Kyai Pamungkas: Pengasih Purnama Penuh

0
346
Ilustrasi Kitab Kuno

PENGASIHAN PURMANA PENUH

Irfan benar benar sedang galau. Betapa tidak, Agy demikian sapaan akrab wanita yang selama ini selalu bersamanya, ternyata, menolak cinta bahkan menghinanya dengan kata-kata yang teramat menyakitkan.

“Cis gak tau malu. Lu pikir selama ini gua senang?” Sergah Agy ketika Irfan menyatakan cintanya di suatu sore.

Semburat merah di ufuk barat, sontak seolah kobaran api yang siap menelan Irfan yang kala itu benar benar kaget dengan umpatan Agy, wanita cantik berkulit hitam manis dan bertubuh sintal yang selama setahun ini selalu berjalan bersama bahkan selalu berkeluh kesah kepadanya. Irfan termangu dan langsung berkata singkat, “Jadi selama ini?”

“Lu benar benar laki-laki gak tau diri ya. Kita kan selama ini cuma berteman dan gak pernah ngomongin soal cinta potong Agy cepat sambil berjaian menjauhi irfan yang masih saja tidak sadar dengan keadaan yang dihadapinya itu.

Sambil menatap punggung Agy yang berjalan menjauh dan hilangdi kelokan jalan, Irfan pun menarik napas dalam dalam dan mengambil sebatang rokok kemudian diselipkan ke bibirnya dan menyulutnya. Setelah berulangkali menghisap dalam-dalam dan membuang asapnya. barulah pikirannya menjadi agak tenang. Dan dengan langkah gontai, Irfan kembali ke kantin untuk menemui teman-temannya yang masih asik berbincang di sana.

Wajahnya yang murung sontak membuat beberapa temannya yang ada di kantin langsung saling pandang. heran. Tak ada yang berani bertanya, mereka semua mafhum, jika sedang murung, karena biasanya, Irfan akan menjadi sosok yang pemberang.

“Ufh …!” Hanya itu yang terlontar dari mulutnya. Hampir seisi kantin menoleh kepadanya. Irfan hanya bisa bersungut dengan muka kecut. Iko, salah seorang sahabat yang benar benar sangat dekat dengan Irfan langsung mendekat dan menggamit bahu sahabatnya sambil berkata

“Ada apa bro? Dunia tidak selebar daun kelor
“Uih,” sahut Irfan masih dengan nada kesal, “baru sekali ini gua ditolak mentah-mentah sama perempuan,” imbuhnya.

“Bro. mungkin Iu nembak bukan di waktu dan tempat yang tepat,” ujar Iko santai.

“Maksud lu?”Tanya Irfan penasaran.

“Yang gua tau, Agy lagi capek lahir batin karena kantornya lagi tutup buku. Nah, sebagai orang nomor satu di bagian akunting. dia benar-benar lagi dalam tekanar yang luar biasa berat. Laporan dan analisa keuangannya harus benar dan diserahkan tepat waktu,” papar Iko panjang lebar.

Irfan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “Nah dalam keadaan capek, Iu nembak ya terang aja ditolak dan Iu terima dech akibatnya,” sambung Iko.

“Oke bro, gua tinggal dulu ya,” ujar lko sambil menepuk bahu Irfan yang masih mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu.

Seminggu kemudian, Irfan kembali berpapasan dengan Agy di selasar kantin. Keduanya hanya mengangguk dan tersenyum. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut masing-masing. Yang pasti, di mata Irfan, Agy semakin cantik dan bertambah sumringah. Inilah yang membuat kenapa cinta yang semula hampir padam itu kembali menyala. Bahkan, dalam hati, Irfan berusaha keras untuk menundukkan atau menguasai Agy yang selama ini memang dikenal dekat dengannya.

“Dia harus menjadi istri dan ibu dari anak anakku,” demikian bisik hari Irfan.

Seiring dengan datangnya libur panjang tahun baru, Irfan yang sudah tiga tahun ini tidak pernah pulang ke kampung halamannya, mendadak digelayuti dengan perasaan rindu yang teramat sangat. Di benaknya, terbayang masa-masa indah bermain di tepian pantai dengan teman-teman sebayanya yang sekarang sudah menjadi ayah dari beberapa anak, kerinduan yang demikian membuncah. membuatnya langsung memutuskan untuk mengambil cuti tahunan yang memang belum pernah dijalaninya itu.

Ketika hal tersebut diutarakan kepada pimpinannya, sambil tersenyum, sang pimpinan pun memberikan izin; “Oke Irfan, silakan ambil cuti selama sepuluh hari. Saya berharap, sekembalinya nanti, Anda mendapatkan pencerahan dan bisa membuat produk kita kembali berjaya seperti dua tahun yang lalu.”

Akhirnya, waktu yang amat dinanti oleh Irfan pun tiba. Di halaman rumahnya, tampak ibu dan dua adiknya yang masih duduk di bangku SMA menyambutnya dengan hangat dan penuh kerinduan. “Bang mana oleh-oleh buatku?” Tanya Ani, si bungsu sambil bergayut manja di bahu abangnya.

“Ani biarkan abangmu masuk dulu. Ani bawa tas abangmu ke kamarnya ya…” ujar sang ibu.

Dengan menggamit bahu kedua adiknya, lrfan pun Iangsung mendatangi si ibu dan mencium tangan kanannya sebagai tanda bakti.

“Alhamdulillah akhirnya engkau mau juga pulang ke kampung yang sunyi ini,” ujar sang ibu sambil memeluk lrfan penuh kerinduan dan berlinang air mata.

“Maafkan ananda, maklum, pekerjaan di Jakarta amat menumpuk dan ananda harus mati-matian mencari uang untuk biaya sekolah kedua adik ananda ini,” ujar Irfan dengan lirih sambil memeluk ibunya.

”Ibu faham,” jawab sang ibu tak kalah haru.

Kini, ketiga anak beranak itu langsung menuju ke ruang tamu rumah untuk saling melepas kerinduan sambil mendengarkan celoteh Irfan tentang kesibukannya di Jakarta. Usai mendirikan shalat Isya dan makan malam, sang ibu pun menyerahkan sebuah buku lusuh yang merupakan peninggalan dari almarhum ayah lrfan yang telah meninggal dunia tujuh tahun yang lalu, “ibu tidak tahu apa yang dituliskan oleh almarhum ayahmu, tetapi siapa tahu, salah satu ada yang bermanfaat jika diamalkan,” demikian kata ibunya.

“Baik Bu, akan Irfan lihat nanti,” ujar lrfan sambil menerima buku usang tersebut.

Keceriaan dalam rumah itu kian bertambah lengkap dengan datangnya dua sahabat Irfan, Amir dan Surya. Sang ibu dan si bungsu langsung beranjak ke dapur untuk menyiapkan kopi dan goreng pisang untuk anak dan kedua sahabatnya itu. Tanpa sadar, malam kian larut, dan ketika kedua sahabatnya kembali ke rumah masing-masing, Irfan pun masuk ke kamarnya sambil menenteng buku usang peninggalan almarhum ayahnya itu.

Ia mencoba membolak-balik beberapa halaman untuk mengetahui isinya. “Ah ternyata, buku ini berisi mantra atau jampi-jampi kuno melayu,” demikian desis Irfan.

Matanya langsung membelalak ketika ia membuka halaman yang ketujuh. Jantungnya langsung berdebar dengan kencang. Betapa tidak, halaman tersebut berisi catatan dan cara mengamalkan Pengasihan Purnama Penuh:

Kulullah anak panahku, kupanahkan ke bumi, bumi hancur, kupanahkan ke laut, laut kering, kupanahkan ke api, api padam, kupanahkan ke langit, langit runtuh, kupanahkan ke hati (sebut nama yang dimaksud), hati si (sebut nama yang dimaksud) hancur luluh, karena kuasa-Mu yang berkuasa atas segala makhluk dan isi dunia ini.

Caranya: Lakukan tiap malam purnama 14 hari. Jika mungkin ambil air dalam sumur (dalam cawan yang putih bersih), ketika timba diangkat, pegang, maka bayangan bulan akan terlihat di dalamnya. Lalu, bayangkan wajah yang dimaksud di bulan tersebut sambil membaca amalan di atas dengan penuh perasaan dan rasa cinta. Jika sudah benar-benar tergambarkan dengan jelas, bayangkan Anda menelan bayangan si dia. Lakukan dengan penuh keyakinan, dan ulang bila dianggap masih belum mengena. Tetapi perlu diingat, jangan sekali-sekali menggunakan amalan ini untuk mendzalimi orang.

Dengan cepat, Irfan berhasil menghafal amalan tersebut. Ia hanya bisa menggelenggelengkan kepala, ternyata, jawaban atas apa yang diharapkan itu ada di dalam buku lusuh peninggalan almarhum ayahnya.

“Kebetulan, besok purnama penuh,” demikian bisik hatinya. Wajah Irfan pun kembali sumringah. la berkhayal, Agy yang semula menolak cinta dan malu, pastinya nanti akan meminta maaf atas perlakuan kasarnya dan bakal bertekuk lutut sekaligus mengharapkan balasan cinta darinya.

Keinginan Irfan yang menggebu ditambah dengan niat tulusnya untuk menjadikan Agy sebagai istrinya, membuat ia dengan penuh keyakinan mengamalkan ilmu pekasih tersebut. Ya malam itu, lrfan bahkan mengulangnya sampai tiga kali.

Dua hari setelah itu, Hpnya pun berdering. Ia tak mengenal nomor siapa gerangan yang sepagi ini sudah meneleponnya hampir lima kali. Dengan malas Irfan pun mengangkatnya. Ketika terdengar kata ”Hallo”, jantung Irfan seolah berhenti berdenyut.

“Agy,” demikian desisnya, “ya aku ingin minta maaf atas perlakuanku yang kemarin. Kapan pulang banyak yang ingin aku bicarakan,” tambah suara dari seberang sana.

“Mungkin satu dua hari lagi. Tunggu ya,” jawab Irfan.

Singkat kata, tiga bulan kemudian, Agy pun resmi dipersunting oleh Irfan.

Dan ketika tulisan ini diturunkan atas sepengetahuannya, keluarga muda ini telah dikaruniai dua orang anak yang lucu, tinggal dengan tenang dan damai di salah satu perumahan yang ada di bilangan Jakarta Timur. @Kyai Pamungkas. 0858-4646-8080

Paranormal Terbaik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here